SOLUSIO PLACENTA DALAM KEHAMILAN

SOLUSIO PLACENTA DALAM KEHAMILAN

  1. Defenisi

Istilah lain dari solusio plasenta adalah ablation plasentae,abruption plasentae,accidental haemorrhage dan premature separation of the normally implanted plasenta.

Solusio plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Biasanya dihitung sejak kehamilan 28 minggu.

  1. Klasifikasi
  • Menurut derajat lepasnya plasenta:
  1. Solusio plasenta parsialis

Bila hanya sebagian saja plsenta terlepas dari tempat perlekatannya.

2.   Solusio plasenta totalis (komplet)

Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat perlekatannya.

3.  Kadang-kadang plasenta ini turun kebawah dan dapat teraba pada pemeriksaan          dalam,disebut prolapsus plasenta

  • menurut tingkat gejala klinik menjadi ringan, sedang, dan berat.
  • menurut penyebabnya:

1.      Non toksik:

Biasanya ringan dan terjadinya sewaktu partus

2.      Toksik:

Lebih parah, terjadinya biasanya pada kehamilan trimester ketiga, dan disertai     kelainan-kelainan organik.

  1. Etiologi

Sebab yang jelas terjadinya solusio plasenta belum diketahui, hanya para ahli mengemukakan teori:

Akibat turunnya tekanan darah secara tiba-tiba oleh spasme dari arteri yang menuju keruangan interviler, maka terjadilah anoksemia dari jaringan bagian distalnya. Sebelum ini menjadi nekrotis, spasme hilang dan darah kembali mengalir ke dalam intervili, namun pembuluh darah distal tadi sudah demikian rapuhnya serta mudah pecah, sehingga terjadi hematoma yang lambat laut melepaskan plasenta dari rahim. Darah yang berkumpul di belakang plasenta disebut hematoma retoplasenter.

Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain:

1)      factor vaskuler (80-90 %), yaitu toksemia gravidarum, glomerulonefritis kronika, dan hipertensi esensial.

Karena desakan darah tinggi, maka pembuluh darah mudah pecah, kemudian terjadi haematom retroplasenter dan plasenta sebagian terlepas.

2)      Faktor trauma:

  • Pengecilan yang tiba-tiba dari uterus pada hidramnion dan gemeli.
  • Tarikkan pada tali pusat yang pendekakibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi luar, atau pertolongan persalinan.

3)       Faktor paritas.

Lebih banyak dijumpai pada milti dari pada primi. Holmer mencatat bahwa dari 83 kasus solusio plasenta dijumpai 45 milti dan 18 primi.

4)      Pengaruh lain seperti anemia, malnutrisi, tekanan uterus pada vena cava inferior, dan lain-lain.

5)      Trauma langsung seperti jatuh, kena tendangan dan lain-lain.

  1. Gejala-gejala

Perdarahan yang disertai nyeri, juga diluar his

  • Anemia dan shock :  beratnya anemia dan shock sering tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar
  • Rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim bertambah dengan darah yang berkumpul di belakang plasenta hingga rahim teregang (uterus en bois)
  • Palpasi sukar karena rahim keras
  • Fundus uteri makin lama makin naik
  • Bunyi jantung biasanya tidak ada
  • Pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus (karena isi rahim bertambah)
  • Sering ada proteinuria karena disertai toxemia
  • Diagnosis didasarkan atas adanya perdarahan antepartum yang bersifat nyeri, uterus yang tegang dan nyeri setelah plasenta lahir atas adanya impresi (cekungan) pada permukaan maternal placenta akibat tekanan haematoma retroplacentair
  • Perdarahan dan shock diobati dengan pengosongan rahim segera mungkin hingga dengan kontraksi dan retraksi rahim. Perdarahan dapat terhenti. Persalinan dapat dipercepat dengan pemecahan ketuban dan pemberian infus dengan oxytocin.

Jadi pada solusio plasenta pemecahan ketuban tidak dimaksudkan untuk hentikan perdarahan dengan segera seperti pada placenta previa tapi untuk mempercepat persalinan dengan pemecahan ketuban regangan dinding rahim berkurang dan kontraksi rahim menjadi lebih baik, disamping tindakan tersebut transfusi sangat penting (Winkjosastro, 2005).

  1. Manifestasi Klinis

ü  Gejala Utama

Perdarahan pervaginam berwarna kehitaman dengan uterus yang terasa nyeri dan tegang.

ü  Gambaran klinik

Perdarahan yang timbul akibat solusio plasenta lebih sering terjadi pada triwula ketiga kehamilan. Penampilan klinik solusio plasenta dapat dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu:

  • Solusio plasenta ringan:

ari-ari terlepas sebagian kecil. Ditunjukkan dengan gejala perut sedikit nyeri, rahim mulai menegang dan keluar darah agak kehitaman

  • Solusio plasenta sedang:

seperempat bagian ari-ari telah terlepas. Perut akan nyeri, rahim tak berhenti menegang dan pendarahan dari vagina. Mungkin darahnya tidak banyak tapi sebenarnya pendarahan hebat terjadi di dalam tubuh sekitar 1.000 ml. Ibu hamil akan syok kehilangan kesadaran serta kemungkinan janin meninggal. Jika janin masih hidup, kondisinya sudah gawat.

  • Solusio plasenta :

berat lebih dari duapertiga bagian ari-ari telah terlepas. Perut akan sangat tegang dan sangat nyeri. Ibu hamil syok dan janin sudah meninggal. Pendarahan kemungkinan tidak sampai keluar karena sudah terjadi pembekuan darah di dalam tubuh.

Solusio plasenta yang ringan, pada umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas, perdarahan antepartum hanya sedikit, dalam hal ini diagnosis baru kita tegakkan setelah anak lahir. Pada plasenta kita dapat koagulum-koagulum darah dan krater.

Pada keadaan yang agak berat kita dapat membuat diagnosis berdasarkan:

  1. Anamnesis

o   Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut; kadang-kadang pasien bisa melokalisir tempat mana yang paling sekit, dimana plasenta terlepas.

o   Perdarahan pervaginam yang bersifat bisa hebat dan sekonyong-konyong (non-recurrent) terdiri dari darah segar dan bekuan-bekuandarah.

o   Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak tidak bergerak lagi).

o   Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, pandangan berkunang-kunang, ibu kelihatan anemis tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar.

o   Kadang-kadang ibu dapat menceritakan trauma dan dan faktor kausal yang lain.

  1. Inspeksi

o   Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan .

o   Pucat, sianosis, keringat dingin.

o   Kelihatan darah keluar pervaginam

  1. Palpasi

o   Fundus uteri tambah naik karena terbentuknya retroplasenter hematoma; uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.

o   Uterus teraba tegang dank eras seperti papan yang disebut uterus in bois (woodenuterus) baik waktu his maupun diluar his.

o   Nyeri tekan terutama di tempat plasenta tadi terlepas.

  • Bagian-bagian janin susah dikenali, karena perut (uterus) tegang.
  1. Auskultasi

Sulit karena uterus tagang. Bila denyut jantung janin terdengar biasanya diatas 140, kemudian turun dibawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari sepertiga.

  1. Pemeriksaan dalam

o   Serviks bisa telah terbuka atau masih tertutup.

o   Kalau sudah terbuka maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang, baik sewaktu his maupun diluar his.

o   Kalau ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya, plasenta ini akan turun kebawah dan teraba pada pemeriksaan, disebut prolapsus plasenta, ini sering dikacaukan dengan plasenta previa.

  1. Pemeriksaan umum

o   Tensi semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh syok.

o   Nadi cepat, kecil, dan filiformis.

  1. Pemeriksaan laboratorium

o   Urin

Albumin (+); pada pemeriksaan sediment terdapat silinder dan lekosit.

o   Darah

Hb menurun (anemia), periksa golongan darah, kalau bisa cross match test.

Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah atau hipofibrionogenemia, maka diperiksakan pula COT (Clot Observation Test) tiap 1 jam, tes kualitatif fibrinogen (fiberindex), dan tes kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 150 mg%)

  1. Pemeriksaan plasenta

Sesudah bayi dan plasenta lahir, kita periksa plasentanys. Biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (krater) dan terdapat koagulum atau darah beku di belakang plasenta, yang disebut hematoma retroplasenter.

  1. Perdarahan pada Solusio Plasenta

Perdarahan pada solusio plasenta bisa mengakibatkan darah hanya ada di belakang plasenta (hematoma retroplasenter); darah tinggal saja didalam rahim yang disebut internal haemorrhage (concealed haemorrhage); masuk merembes ke dalam amnion; atau keluar melalui vagina (antara) selaput ketuban dengan dinding uterus), yang disebut external haemorrhage (revealed haemorrhage).

Jika solusio plasenta lebih berat dapat terjadi couvelair uterus (apopleksi uteroplasenter). Dalam hal ini darah merembes memasuki otot-otot rahim sampai kenawah serosa, bahkan kadang-kadang sampai ke ligamentum latum dan melalui tuba masuk kerongga panggul. Uterus kelihatan lebih besar, dinding uterus penuh dengan bintik-bintik merah hematoma dari kecil sampai besar.

Ada 2 bentuk Couvelair Uterus, yaitu:

  1. Couvelair Uterus dengan kontraksi uterus baik.
  2. Couvelair Uterus dengan kontraksi uterus jelek, sehingga terjadi perdarahan postpartum.

Couvelair Uterus terjadi karena berbagai teori, antara lain vasospasme, perubahan-perubahan toksik, adanya hematoma retroplasenter yang hebat, uterus yang terlalu regang atau a/hipofibrinogenemia. Hal-hal tersebut menyebabkan pembuluh darah dinding uturus pecah.

  1. Diagnosis Banding
  • Solusio plasenta
  • Plasenta previa
  • Rupture uteri
  1. Komplikasi

a)      Langsung (immediate)

  • Perdarahan
  • Infeksi
  • Emboli dan Syok obstetric

b)      Komplikasi tidak langsung (delayed)

  • Couvelair uterus, sehingga kontraksi tak baik, menyebabkan perdarahan postpartum
  • a/hipo-fibrinogenemia dengan perdarahan postpartum
  • nekrosis korteks renalis, menyababkan anuria dan uremia
  • kerusakan-kerusakan argan seperti hati, hipofisis dan lain-lain.
  1. Terapi
    Atasi syok

–   Infus larutan NS/RL untuk restorasi cairan, berikan 500 ml dala 15 menit pertama dan 3 l dalam 2 jam pertama

–   Berikan transfusi dengan darah segar untuk memperbaiki faktor pembekuan akibat koagulatif

–   Tatalaksana oliguria atau nekrosis tubuler akut
Tindakan restorasi cairan, dapat memperbaiki hemodinamika dan mempertahankan eksresi sistem urinaria, tetepai bila syok terjadi secara cepat dan telah berlangsung lama (sebelum dirawat), umumnya akan terjadi gangguan fungsi ginjal yang ditandai dengan oliguria (produkdi urin < 30 ml/jam) pada kondisi yang lebih berat dapat terjadi anuria yang mengarah pada nekrosis tubulus renalis. Setelah restorasi cairan dilakukan tindakan untuk mengatasi gangguan tersebut dengan : Furosemida 40 mg dalam 1 liter krostoloid dengan 40-60 tetes/menit Bila belum berhasil gunakan manital 500 ml dan 40 tetes/menit Atasi hipofibrigonemia Restorasi cairan/darah sesegera mungkin dapat menghindarkan terjadinya koagulopati Lakukan uji beku darah (bedside coagulation test) untuk menilai fungsi pembekuan darah (penilaian tidak langsung kadar ambang fibrinogen)). Carananya sebagai berikut : Ambil darah vena 2 ml masukkan dalam tabung kemudian diobservasi Gangguan bagian tabung yang berisi darah Setelah 4 menit, miringkan tabung untuk melihat lapiran koagulasi dipermukaan, lakukan hal yang sama tiap menit Bila bagian permukaan tidak membeku dalam waktu 7 menit, maka diperkiran titer fibrinogen dianggap di bawah nilai normal (kritis) Bila terjadi pembekuan tipis yang mudah robek bila tabung dimiringkan, keadaan ini juga menunjukan kadar fibrinogen di bawah ambang normal. Bila darah segera tidak dapat segera diberikan, berikan plasma beku segar (15 ml/kg BB) Bila plasma beku segar tidak tersedia, berikan kriopresipatat fibrinogen Pemberian fibrinogen, dapat memperberat terjadinya koagulasi desminato intravaskuler yang berlanjut yang berlanjut dengan pengedapan fibrin, pengendapan fibrin, pembendugan mikrosirkulasi di dalam, di dalam organ-organ vital, seperti ginjal, glandula adrenalis hipofisis dan otak. Bila perdarahan masih berlangsung (koagulatif) dan trombosit di bawah 20.000 berikan konsetra trombosit. Hypofibrinogenemia : coagulopathi ialah kelainan pembekuan darah : dalam ilmu kebidanan paling sering disebabkan oleh solusio plasenta, tapi juga dijumpai pada emboli air ketuban, kematian janin dalam rahim dan perdarahan postpartum. Kadar fibrinogen pada wanita yang hamil biasanya antara 300-700 mg dalam 100 cc. bila kadar fibrinogen dalam darah turun di bawah 100 mg per 100 cc terjadilah gangguan pembekuan darah. Terjadinya hipofibrinogenemia : Fase I : pada pembuluh darah terminal (arteriol, kapiler, vena terjadi pembekuan darah disebut disseminated intravaskuler clotting, akibatnya ialah bahwa peredaran darah kapiler (microcirculasi) terganggu. Jadi pada fase I turunya kadar fibrinogen disebabkan karena pemakaian zat tersebut. Maka fase I disebut juga coagulopatihi consumtif. Diduga bahwa hematom retroplacentair mengeluarkan thtomboplastin yang menyebabkan pembekuan intravaskuler tersebut. Akibat gangguan mikrocirculasi terjadi kerusakan jaringan pada alat-alat yang penting karena hipoxia, kerusakan ginjal menyebabkan oliguri/anuri, akibat gangguan mocrocirculsi ialah shock Fase II : fase regulasi reparatif ialah usaha badan untuk membuka kembali perdarahan. Darah kapiler yang tersumbat. Usaha ini dilaksanakan dengan fibrinolyse. Fibrinolyse yang berlebihan lebih lagi menurunkan kadar fibrinogen hingga terjadi perdarahan patologis Penentuan hypofibrinogenaemi Penentuan fibrinogen secara laboratoris memakan waktu yang lama maka untuk keadaan akut baik dilakukan clot obsevation test. Beberapa CC darah dimasukkan dalam tabung reagens. Darah yang normal membeku dalam 6-15 menit. Jika darah membeku cair lagi dalam 1 jam maka ada aktivitas fibrinolyse (Winkjosastro, 2005). Patofisiologi Terjadinya solusio placenta dipicu oleh perdarahan ke dalam disidua basalis, yang kemudian terbelah dan meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada meometrium sehingga terbentuk hematoma disidual yang menyebabkan perlepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran placenta yang berdekatan dengan bagian tersebut. Ruptur pembuluh arteri spiralis disidua menyebabkan hematoma retroplacenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan placenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban (Mansjoer, 2001). Pengobatan Umum Pemberian darah yang cukup Pemberian O2 Pemberian antibiotica Pada shock yang berat diberi kortikasteroid dalam dosis tinggi Khusus Teraphy hypoibrinogenemi Subtitusi dengan human fibrinogen 10 gram atau darah segar Menghentikan fibrinolyse dengan trasylol (proteinase inhibitor) 200.000 s IV selanjutnya kalau perlu 100.000 s/jam dalam infus Untuk merangsang diurese : mannit/mannitol Deurese yang baik lebih dari 30-40 cc/jam Obstetris Pimpinan persalinan pada solusio placenta bertujuan untuk mempercepat persalinan diharapkan dapat terjadi dalam 3-6 jam. Alasannya adalah : Bagian placenta yang terlepas meluas Perdarahan bertambah Hypofibrinogenaemi menjelma atau bertambah Tujuan ini dicapai dengan : Pemecahan ketuban : pada solusio placenta tidak bermaksud untuk menghentikan perdarahan dengan segera tetapi untuk mengurangi regangan dinding rahim dan dengan demikian mempercepat persalinan Pemberian infus pitocin ialah 5 c dalam 500 cc glucase 5% SC dilakukan : Kalau cerviks panjang dan tertutup Kalalu setelah pemecahan ketuban dan pemberian oxytocin dalam 2 jam belum pecah juga ada his Hysterektomi dilakukan kalau ada atonia uteri yang berat yang tak dapat diatasi dengan usaha-usaha yang lazim. (Manuaba, 1999) Seksio Sesaria Seksio sesaria dilakukan apabila : Janin hidup dam pembekuan belum lengkap Janin hidup, gawat janin, tetapi persalinan pervaginam tidak dapat dilaksanakan dengan segera Janin mati pervaginam dapat berlangsung dalam waktu yang singkat Persiapan untuk sesaria cukup dilakukan penanggulangan awal (stabilisasi dan tatalaksana komplikasi) dan segera lahirkan bayi karena operasi merupakan satu-satunya cara efektif untuk menghentikan perdarahan. Hematoma meometrium tidak mengganggu kontraksi uterus Observasi ketat kemungkinan perdarahan ulang (koagulopatti) (Manuaba, 1999) Partus Pervaginam Partus pervaginam dilakukan apabila : Janin hidup, gawat janin, pembekuan lengkap, dan bagian terendah didasari panggul Janin telah meninggal dan pembukaan serviks > 2 cm.

Pada kasus pertama, amniotomii (bila ketuban belum pecah), kemudian percepat kala II dengan ekstraksi forceps (vakum)

Untuk kasus kedua, lakukan amniotomi (bila ketuban belum pecah) kemudian akselerasi dengan 5 unit oksitosin dla dekstore 5% atau RL, tetesan diatur sesuai dengan kondisi kontraksi uterus.

Setelah persalinan, gangguan pembekuan darah akan membaik dalam waktu 24 jam, kecuali bila jumlah trombosit sangat rendah (perbaikan batu terjadi dalam 2-4 hari kemudian).(Manuaba, 1999)

BAB III

KONSEP MANAJEMENT ASUHAN KEBIDANAN

 

            Proses manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah agar pelayanan yang komprehensif dapat tercapai. Proses manajemen terdiri dari tujuh langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dari pengumpulan data dasar yang berakhr dengan evaluasi. Kutujuh langkah tersebut membentuk kerangka lengkap yang dapat diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi, setiap langkah-langkah dapat dipecah menjadi langkah-langkah tertentu dan bias berubah sesuai dengan bagaimana keadaan pasien.

Tetapi disini hanya lima langkah saja yang akan di bahas yaitu dari pengumpulan data sampai pada Perencanaan asuhan.

Pembahasan dari kelima langkah tersebut adalah :

  1. Langkah I (Pengkajian)
  1. DATA SUBJEKTIF

1)            Biodata atau identitas pasien:

a)            Istri

  • Nama

Perlu ditanyakan agar tidak keliru bila ada kesamaan nama dengan klien.

  • Umur

Perlu ditanyakan untuk mengetahui pengaruh umur terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Dalam kurun waktu reproduksi sehat, dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun.

  • Alamat

Ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan bila diperlukan bila keadaan mendesak. Dengan diketahuinya alamat tersebut, bidan dapat mengetahui tempat tinggal pasien/klien dan lingkungannya. Dengan tujuan untuk memudahkan menghubungi keluarganya, menjaga kemungkinan bila ada nama ibu yang sama, untuk dijadikan petunjuk saat kunjungan rumah.

  • Pekerjaan

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Dengan mengetahui pekerjaan pasien/klien, bidan dapat mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonominya agar nasehat bidan sesuai, juga mengetahui apakah pekerjaan mengganggu atau tidak, misalnya bekerja di pabrik rokok, mungkin yang dihisap akan berpengaruh pada janin.

  • Agama

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien. Dengan diketahuinya agama pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

  • Pendidikan

Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.

  • Status Perkawinan

Pertanyaan ini dilakukan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh status perkawinan terhadap masalah kesehatan. Bila diperlukan ditanyakan tentang perkawinan keberapa kalinya.

  • Suku/Ras

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya suku/ras pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

b)            Suami

  • Nama

Perlu ditanyakan agar tidak keliru bila ada kesamaan nama dengan klien.

  • Umur

Perlu ditanyakan untuk mengetahui pengaruh umur terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien.

  • Alamat

Ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan bila diperlukan bila keadaan mendesak. Dengan tujuan untuk memudahkan menghubungi suami pasien/klien.

  • Pekerjaan

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan suami terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Dengan mengetahui pekerjaan suami pasien/klien, bidan dapat mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonominya agar nasehat bidan sesuai, juga mengetahui apakah pekerjaan mengganggu atau tidak, misalnya bekerja di pabrik rokok, mungkin yang dihisap akan berpengaruh pada janin.

  • Agama

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya agama pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

  • Pendidikan

Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya. Tingkat pendidikan suami juga mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seorang istri.

  • Status Perkawinan

Pertanyaan ini dilakukan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh status perkawinan terhadap masalah kesehatan. Bila diperlukan ditanyakan tentang perkawinan keberapa kalinya.

  • Suku/Ras

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya suku/ras pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

2)            Riwayat pasien

a)            Keluhan utama

Ditanyakan untuk mengetahui perihal yang mendorong pasien datang kepada bidan. Untuk mengetahui keluhan utama tersebut pertanyaan yang diajukan oleh bidan adalah sebagai berikut: “Apa yang ibu rasakan, sehingga ibu datang kemari?”

b)            Riwayat menstruasi

Untuk mengetahui gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksi pasien/klien.

c)            Menarche

Untuk mengethui usia pertama kalinya mengalami menstruasi.

d)           Siklus Menstruasi

Untuk mengetahui jarak antara menstruasi yang dialami dengan menstruasi berikutnya, dalam hitungan hari. Biasanya sekitar 23 sampai 32 hari.

e)            Volume

Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstruasi yang dikeluarkan. Kadang kita akan kesulitan untuk mendapatkan data yang valid. Sebagai acuan biasanya digunakan criteria banyak, sedang, sedikit. Jawaban yang diberikan oleh pasien biasanya bersifat subjektif, namun kita dapat kaji lebih dalam lagi dengan beberapa pertanyaan pendukung, misalnya sampai berapa kali mengganti pembalut dalam sehari.

f)             Keluhan

Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang dirasakan ketika mengalami menstruasi, misalnya nyeri hebat, sakit kepala sampai pingsan, atau jumlah darah yang banyak. Keluhan yang disampaikan oleh pasien dapat menunjuk kepada diagnosis tertentu.

g)            Menstruasi yang Terakhir

Untuk mengetahui prediksi waktu mengenai kapan menstruasi yang akan datang.

h)            Dismenorhea

Untuk mengetahui ketika haid terjadi nyeri atau sulit. Dismenorhea ditandai oleh nyeri mirip kram yang terasa pada abdomen bagian bawah dan kadang-kadang oleh sakit kepala, keadaan mudah tersinggung, depresi mental, keadaan tidak enak badan serta perasaan lelah.

i)              Keteraturan Menstruasi

Untuk mengetahui jarak normal keteraturan menstruasi biasanya 23 sampai 32 hari. Apabila terjadi ketidak teraturan menstruasi pada pasien dapat segera dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui factor-faktor penyebabnya.

j).      Fluor albus

Untuk mengetahui pada umumnya adanya cairan di dalam vagina bertambah dalam kehamilan tanpa sebab-sebab yang patologis dan sering menimbulkan keluhan. Ganococcus menyebabkan flour seperti nanah, Trichomonasvaginalis menyebabkan flour yang putih berbau, sedangkan candida albicans menyebabkan flour dengan gumpalan putih atau kuning dan menyebabkan gatal yang sangat.

k)      Gangguan sewaktu Menstruasi

Untuk mengetahui gangguan apa saja yang dirasakan ketika mengalami menstruasi,misalnya nyeri hebat,sakit kepala sampai pingsan, atau keadaan mudak tersinggung (emosional meningkat). Gangguan yang dialami pasien dapat menunjuk kepada diagnosis tertentu.

3)      Riwayat perkawinan

Perlu ditanyakan untuk mengetahui pengaruh riwayat perkawinan terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Berapa kali kawin dan berapa lamanya untuk membantu menentukan bagaimana keadaan alat kelamin ibu. Kalau orang hamil sudah lama kawin, nilai anak tentu besar sekali dan ini harus diperhitungkan dalam pimpinan persalinan (anak mahal).

Hal-hal yang perlu ditanyakan kepada pasien/klien mengenai riwayat perkawinannya adalah :

1.            Kawin : …………………..kali

2.            Usia Kawin Pertama ………………………tahun

3.            Status Perkawinan

4.            Lama Pernikahan

4)            Riwayat kehamilan dan persalinan

Untuk mengetahui adanya masalah-masalah persalinan kehamilan dan nifas yang lalu. Pertanyaan ini mempengaruhi prognosa persalinan dan persiapan persalinan yang lampau adalah hasil ujian-ujian dari segala faktor yang mempengaruhi persalinan. Mencakup :

  • Jumlah Kehamilan dan kelahiran: G (gravida), P (para), A (abortus), H (hidup)

Data ini digunakan untuk mengetahui riwayat kehamilan dan kelahiran pasien.

  • Golongan Darah

Data ini menjelaskan golongan darah pasien, hal ini dilakukan untuk sumber informasi jika ketika kehamilan atau persalinan mengalami pendarahan penanganan penggantian darah yang keluar melalui transfusi darah lebih cepat dilakukan.

  • Riwayat persalinan

Mencakup jarak antara dua kelahiran, tempat melahirkan, lamanya melahirkan, cara melahirkan. Dengan mengetahui riwayat persalinan, melihat kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu hamil saat persalinan sekarang dan mengupayakan pencegahannya dan penanggulangannya.  Jika persalinan dahulu terdapat penyulit seperti perdarahan, sectio saesaria, solusio plasenta, plasenta previa kemungkinan dapat terjadi atau timbul pada persalinan sekarang.

  • Masalah atau gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan

Untuk mengetahui masalah atau gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan, jika terdapat penyulit diupayakan pencegahannya dan penanggulangannya.

5)            Riwayat nifas

Untuk mengetahui adakah penyakit atau kelainan pada masa nifas yang lalu (perdarahan, feloris).

6)            Riwayat kelahiran anak

a)            Berat bayi sewaktu Lahir

Untuk mengetahui kondisi bayi apakah sehat atau mengalami trauma lahir dimana hal ini terjadi karena trauma pada bayi akibat tekanan mekanik (seperti kompresi dan traksi) selama preses persalianan. Kejadian ini terjadi pada berat badan bayi lebih dari 4.500 gram.

b)            Kelainan Bawaan Bayi

Untuk dapat segera melakukan tindakan preventif pada bayi agar tidak memperparah kondisi.

c)            Jenis Kelamin Bayi

Untuk mengetahui jenis kelamin bayi sebagai dokumentasi.

d)           Status Bayi yang Dilahirkan: hidup atau mati

Bila bayi hidup, bagaimana keadaannya sekarang,

Bila meninggal, apa penyebab kematiannya.

7)            Riwayat Ginekologi

Data ini sangat penting karena akan memberikan petunjuk tentang organ reproduksi pasien. Mencakup: infertilitas, penyakit kelamin, tumor atau kanker sistem reproduksi, operasi ginekologi. Jika didapatkan adanya salah satu atau beberapa riwayat gangguan kesehatan alat reproduksi, maka harus waspada akan adanya kemungkinan gangguan kesehatan alat reproduksi pada masa postpartum.

8)            Riwayat keluarga berencana

Untuk mengetahui apakah ada efek samping setelah penggunaan kontrasepsi, lamanya menggunakan alat kontrasepsi,  alasan pemakaian serta pemberhentian kontrasepsi (bila tidak memakai lagi), serta keluhan selama memakai alat kontrasepsi.

9)            Riwayat kehamilan sekarang

Mencakup waktu mendapat haid terakhir, siklus haid, perdarahan pervaginam, fluor, mual/muntah, masalah kelainan pada kehamilan sekarang, pemakaian obat-obatan/jamu. Anamnesa haid serta siklusnya dapat diperhitungkan tanggal persalinan serta memantau perkembangan kehamilannya serta dengan anamnesa ini dapat diketahui dengan segera adanya kelainan / masalah dalam kehamilan dan dapat ditangani dengan segera.

10)        Riwayat penyakit

Untuk mengetahui riwayat penyakit yang pernah diderita pasien/klien. Informasi ini penting untuk melihat kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu hamil dan mengupayakan pencegahannya dan penanggulangannya. (Depkes RI, 1993:65), misal:

a)         Ibu hamil dengan riwayat penyakit hipertensi perlu ditentukan pimpinan persalinan dan kemungkinan bisa menyebabkan transient hipertension.

b)         Ibu hamil dengan riwayat penyakit TBC akut kemungkinan bisa menyebabkan kuman saat persalinan dan bisa menular pada bayi.

c)         Ibu dengan riwayat DM mempunyai pengaruh terhadap persalinannya dan bayi bisa cacat bawaan, janin besar.

d)        Ibu menderita hepatitis kemungkinan besar bayi akan tertular melalui ASI. (Sarwono, 1999:401)

11)          Gambaran penyakit yang lalu

Setelah mengetahui riwayat penyakit pasien/klien, bidan perlu mengetahui gambaran mengenai riwayat penyakit pasien/klien, misal apakah penyakit tersebut parah/tidak, apakah sudah dilakukan tindakan pada penyakit tersebut, dll. Informasi ini penting untuk melihat kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu hamil dan mengupayakan pencegahan dan penanggulangannya.

12)              Riwayat penyakit keluarga

Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan ibu dan janinnya. Penyakit keluarga yang perlu ditanyakan mencakup penyakit kanker, jantung, hipertensi, diabetes, ginjal, jiwa, kelainan dibawa lahir, kehamilan kembar atau lebih, TBC, epilepsy, penyakit darah, alergi, penyakit yang menyebabkan kematian bagi bapak atau ibu yang telah meninggal.

13)              Keadaan sosial budaya, ekonomi, dan budaya

Untuk mengetahui keadaan psikososial pasien atau klien perlu ditanyakan antara lain :

  • Jumlah anggota keluarga
  • Dukungan materiil dan moril yang didapat dari keluarga.
  • Kebiasaan-kebiasaan yang menguntungkan kesehatan.
  • Kebiasaan yang merugikan kesehatan.

14)              Riwayat spiritual

Kemungkinan pasien melakukan ibadah agama dan kepercayaannya dengan baik dan memudahkan kita dalam memberikan asuhan yang sesuai dengan kepercayaan klien.

15)              Riwayat pikologis

Kemungkinan adanya tanggapan klien dan keluarga yang baik terhadap kehamilan dan persalinan yang ini. Keungkinan pasien dan suaminya mengharapkan dan senang dengan kehamilan ini. Atau kemungkina klien cemas, takut dan gelisah dengan kehamilan ini.

16)              Kebutuhan dasar

Kemungkinan pemenuhan kebuuhan bio-psiko yang meliputi pemenuhan nutrisi, proses eliminasi, aktifitas sehari-hari, istirahat, personan hygiene, dan kebiasaan-kebiasaan yang dapat mempengaruhi esehatan saat hamil dan bersalin.

  1. DATA OBJEKTIF

Data dikumpulkan melalui pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus.

a)            Pemeriksaan umum

Secara teoritis kemungkinan di temukan gambaran keadaan umum pasien baik, yang mencakup kesadaran, tekanan darah, nadi, nafas, suhu, tinggi badan dan keadaan umum.

b)            Pemeriksaan khusus

1)               Secara inspeksi, yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat/memandang dari kepala sampai ujung kaki.

Yang dinilai ialah kemungkinan bentuk tubuh yang normal, kebersihan kulit, rambut, muka, conjunctiva, skelera, hidung dan telinga, mulut, apakah ada caries dentis, stomatitis, karang gigi, leher apakah ada pembesaran kelenjar gondok, payudara apakah simetris kiri dan kanan, keadaan putting susu menonjol atau tidak, colostrums ada atau tidak, perut membesar sesuai dengan tua kehamilan, apakah ada bekas luka operasi, vulva apakah bersih, ada varises atau tidak, oedema dan pengeluaran dari vagina. Anus apakah ada haemorhoid, extremitas atas dan bawah apakah ada kelainan.

2)               Secara palpasi, yaitu pemeriksaan yangdilihat dengan cara meraba.

Dengan cara menggunakan cara Leopold, kemungkinan yang ditemukan ialah :

Leopold I             : tinggi fundu uteri dalam cm, pada fundus kemungkinan teraba  bagian kepala, bokong atau lainnya.

Leopold II           :pada dinding perut sebelah kanan atau kiri ibu kemungkinan teraba punggung, anggota gerak atau bokong, kepala.

Leopold III          :teraba bagian bokong, kepala atau lainnya

Leopold IV          :bagian terbawah janin belum masuk PAP, karena terhambat oleh placenta yang letaknya di segmen bawah rahim.

3)               Secara auskultasi

Kemungkinan dapat terdengar bunyi jantng janin, frekuensinya, teratur atau tidak dan posisi puctum maksimum.

4)               Secara perkusi

Kemungkinan refleks patella kiri dan kanan positif.

5)               Pemeriksaan ukuran panggul

Kemungkinan normal dengan pengukuran jangka panggul.

6)               Pemeriksaan tafiran berat badan janin (TBJ)

Kemungkinan berat janin normal, dengan menggunakan rumus:

(TFU dlm cm – 13) x 155

Kemudian ditambah 375 untuk lingkaran abdomen yang lebih dari 100cm.

  1. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a)            Laboratorium

Darah     :Hb, Haematokrit, golongan darah, kadar estriol.

Urine      :kemungkinan ditemui protein aceton, dan kadar estriol yang berkurang, reduksi.

b)            USG

Kemungkinan keadaan janin hidup  dan dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan kesejahteraan janin.

c)            Pemeriksaan CTG (kardiografi)

Pemeriksaan ini bertujuan untuk memantau detak jantung janin, hasil pemantauan detak jantung janin, tergantung dari klasifikasi dan cepatnya plasenta terlepas sehingga dapat mempengaruhi sirkulasi retroplasenter yang selanjutnya akan langsung mempengaruhi nutrisi dari pertukaran O2/CO2 intraplasenta.

  1. Langkah II (Interpretasi Data Dasar)

Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosadan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.

Berdasarkan kasus ini, maka kemungkinan interpretasi data yang timbul adalah ;

  1. Diagnosa Kebidanan

Kehamilan dengan solusio plasenta, G…, P…, A…, H….

Dasar :

  1. Nyeri tekanan uterus dan tegang
  2. Leopold I  : T Fut, TBBJ
  3. Leopold II : Puki, Puka atau lainnya (letak sungsang atau letak lintang)
  4. Leopold III: bisa kepala, bokong, letak lintang ataupun letak sungsang
  5. Leopold IV: Bagian terbawah janin belum masuk PAP
  6. DJJ  : kadang tidak terdengar (sulit dinilai)
  7.  Ibu mengatakan hamil anak…
  8. bagian-bagian janin sukar dinilai
  9. tidak ada air ketuban berwarna kemerahan karena bercampur darah jika ada pengeluaran pervaginam
  10. Masalah

Masalah yang kemungkinan timbul adalah kecemasan dan gangguan sehubungan dengan terjadinya gangguan rasa nyaman.

Dasar : Ibu mengatakan merasa nyeri dan kadang-kadang perutnya tertekan dan tegang

  1. Kebutuhan

1)      Penyuluhan tentang istirahat ibu

Dasar : dari TTV dan KU ibu

2)      Dukungan psikologi

Dasar : karena ibu mengatakan cemas

3)      Kebersihan vulva

Dasar : pencegahan infeksi dan rasa nyaman

4)      Hidrasi

Dasar : kebutuhan cairan dan nutrisi sangat penting apalagi jika ibu anemia

5)      Rasa nyaman

Dasar : karena Ibu mengatakan merasa nyeri dan kadang-kadang perutnya tertekan dan tegang.

6)      Penyululuhan tentang resiko persalinan

Dasar : karena agar ibu lebih mempersiapkan persalinannnya.

7)      Ajarkan ibu posisi yang benar pada ibu hamil

Dasar : berhubungan dengan rasa nyaman.

  1. Langkah III ( Mengidentifikasi Diagnosa Atau Masalah Potensial)

Kemungkinan diagnosa atau masalah potensial yang timbul :

  1. Potensial terjadi gawat janin

Dasar : karena plasenta yang lepas sebelum waktunya, karena terputusnya hubungan antara janin dan ibu sehingga dapat mempengaruhi nutrisi dan pertukaran O2/CO2 intraplasenta.

  1. Potensial terjadi hipoksia pada janin

Dasar : karena terputunya hubungan antara janin dan ibu sehingga dapat mempengaruhi nutrisi dan pertukaran O2/CO2 intraplasenta.

  1. Langkah IV (Identifikasi Kebutuhan Yang Memerlukan Penangan Segera)

Kemungkinan tindakan segera pada kasus kehamilan/persalinan dengan solusio plasenta antara lain :

  1.  Kolaborasi dengan dokter segera mungkin jika terjadi komplikasi yang lebih hebat
  1. Langkah V (Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh)

Langkah ini merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasikan atau merupakan lanjutan dari setiap masalah yang berkaitan dengan kerangka pedoman tentang apa yang akan terjadi berikutnya, penyuluhan, konseling dan rujukan untuk masalah sosial, ekonomi, kultural, atau masalah psikologis bila diperlukan. Suatu rencana asuhan harus di setujui oleh kedua belah pihak baik bidan maupun klien agar perencanaan dapat dilakukan dengan efektif. Semua keputusan harus bersifat rasional dan valid berdasarkan teori serta asumsi yang berlaku tentang apa yang akan dan tidak dilakukan.

Adapun rencana asuhan yang dibutuhkan pasien dalam kasus ini yaitu:

  1. Jelaskan keadaan ibu saat ini
  2. Anjurkan ibu untuk melahirkan ditenaga kesehatan atau rumah sakit
  3. Ajarkan pada ibu untuk mengatasi gangguan rasa nyaman
  4. Ajarkan pada ibu untuk senam hamil
  5. Pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu
  6. Jelaskan tentang gizi ibu hamil
  7. Ajarkan cara minum Fe
  8. Jelaskan tanda-tanda persalinan
  9. Cara mengurangi rasa sakit
  10. Jelaskan pengaruh sering BAK adalah normal

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Cunningham FG. 2006. Obstetri William Vol. 1. Jakarta: EGC. pp: 685-704.
  2. Manuaba prof.dr.ida bagus Gde ,dkk.2003.pengantar kuliah obstetri,jakarta: buku kedokteran EGC
  3. Prawirohardjo sarwono.2009.ilmu kebidanan,jakarta:PT bina pustaka.
  4. Yeyeh R ai,2010.asuhan kebidanan IV patologi,jakarta:trans info media.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s