0

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keikutsertaan Ibu Dalam Kelas Ibu Hamil Di Puskesmas Air Dingin Padang Tahun 2013

PRODI D III KEBIDANAN

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

Karya Tulis Ilmiah, Juli 2013

 

Dilla Aprima Sari

 

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keikutsertaan Ibu Dalam Kelas Ibu Hamil Di Puskesmas Air Dingin Padang Tahun 2013

 

vii + 54 halaman + 8 tabel + 3 gambar + 16 Lampiran

 

 

ABSTRAK

Penyebab kematian maternal diantaranya perdarahan, infeksi, gestosis, abortus, persalinan lama atau macet, emboli obstetrik, Komplikasi masa puerperium, dan lain-lain. Faktor lain penentu tingginya angka kematian maternal adalah rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil, serta latar belakang pendidikan rendah. Untuk mempercepat pencapaian program MDGs, diperlukan upaya percepatan penurunan kematian ibu dan bayi melalui peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ibu dan keluarga. Program yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan untuk mendukung langkah tersebut adalah Kelas Ibu Hamil.

Penelitian ini bersifat Analitik, dengan pendekatan Cross Sectional Study, penelitian ini di lakukan pada tanggal 03 Mei-17 Mei 2013 dengan jumlah sampel 38 orang di Puskesmas Air Dingin Padang, metode pengambilan sampel dengan teknik Accidental Sampling, jenis data adalah data primer dan data sekunder, teknik analisa data menggunakan analisa univariat dan analisa bivariat dengan menggunakan manual.

Dari hasil penelitian di dapatkan dari 38 orang, 22 orang (57,9%) ibu hamil berpengetahuan tinggi, 16 orang (42,1%) ibu hamil berpengetahuan rendah, 18 orang (47,4%) ibu hamil bersikap positif, 20 orang (52,6%) ibu bersikap negatif, 21 orang (55,3%) ibu hamil dukungan suami tinggi, 17 orang (44,7%) ibu hamil dukungan suami rendah, 23 orang (60,5%) ibu hamil mengikuti kelas ibu, 15 orang (39,5) ibu hamil tidak mengikuti kelas ibu hamil,  adanya hubungan antara pengetahuan, sikap, dan dukungan suami dengan keikutsertaan ibu dalam kelas ibu hamil dengan X² Hitung : 14,5, 11,5  dan 23,6.

Diharapakan tenaga kesehatan khususnya bidan untuk dapat meningkatkan penyuluhan mengenai kelas ibu hamil dan melakukan pendekatan dan komunikasi dengan ibu hamil sehingga dapat merubah sikap negatif ibu mengenai kelas ibu hamil

 

Daftar Bacaan : 13 (2003-2012)

0

SOLUSIO PLACENTA DALAM KEHAMILAN

SOLUSIO PLACENTA DALAM KEHAMILAN

  1. Defenisi

Istilah lain dari solusio plasenta adalah ablation plasentae,abruption plasentae,accidental haemorrhage dan premature separation of the normally implanted plasenta.

Solusio plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Biasanya dihitung sejak kehamilan 28 minggu.

  1. Klasifikasi
  • Menurut derajat lepasnya plasenta:
  1. Solusio plasenta parsialis

Bila hanya sebagian saja plsenta terlepas dari tempat perlekatannya.

2.   Solusio plasenta totalis (komplet)

Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat perlekatannya.

3.  Kadang-kadang plasenta ini turun kebawah dan dapat teraba pada pemeriksaan          dalam,disebut prolapsus plasenta

  • menurut tingkat gejala klinik menjadi ringan, sedang, dan berat.
  • menurut penyebabnya:

1.      Non toksik:

Biasanya ringan dan terjadinya sewaktu partus

2.      Toksik:

Lebih parah, terjadinya biasanya pada kehamilan trimester ketiga, dan disertai     kelainan-kelainan organik.

  1. Etiologi

Sebab yang jelas terjadinya solusio plasenta belum diketahui, hanya para ahli mengemukakan teori:

Akibat turunnya tekanan darah secara tiba-tiba oleh spasme dari arteri yang menuju keruangan interviler, maka terjadilah anoksemia dari jaringan bagian distalnya. Sebelum ini menjadi nekrotis, spasme hilang dan darah kembali mengalir ke dalam intervili, namun pembuluh darah distal tadi sudah demikian rapuhnya serta mudah pecah, sehingga terjadi hematoma yang lambat laut melepaskan plasenta dari rahim. Darah yang berkumpul di belakang plasenta disebut hematoma retoplasenter.

Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain:

1)      factor vaskuler (80-90 %), yaitu toksemia gravidarum, glomerulonefritis kronika, dan hipertensi esensial.

Karena desakan darah tinggi, maka pembuluh darah mudah pecah, kemudian terjadi haematom retroplasenter dan plasenta sebagian terlepas.

2)      Faktor trauma:

  • Pengecilan yang tiba-tiba dari uterus pada hidramnion dan gemeli.
  • Tarikkan pada tali pusat yang pendekakibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi luar, atau pertolongan persalinan.

3)       Faktor paritas.

Lebih banyak dijumpai pada milti dari pada primi. Holmer mencatat bahwa dari 83 kasus solusio plasenta dijumpai 45 milti dan 18 primi.

4)      Pengaruh lain seperti anemia, malnutrisi, tekanan uterus pada vena cava inferior, dan lain-lain.

5)      Trauma langsung seperti jatuh, kena tendangan dan lain-lain.

  1. Gejala-gejala

Perdarahan yang disertai nyeri, juga diluar his

  • Anemia dan shock :  beratnya anemia dan shock sering tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar
  • Rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim bertambah dengan darah yang berkumpul di belakang plasenta hingga rahim teregang (uterus en bois)
  • Palpasi sukar karena rahim keras
  • Fundus uteri makin lama makin naik
  • Bunyi jantung biasanya tidak ada
  • Pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus (karena isi rahim bertambah)
  • Sering ada proteinuria karena disertai toxemia
  • Diagnosis didasarkan atas adanya perdarahan antepartum yang bersifat nyeri, uterus yang tegang dan nyeri setelah plasenta lahir atas adanya impresi (cekungan) pada permukaan maternal placenta akibat tekanan haematoma retroplacentair
  • Perdarahan dan shock diobati dengan pengosongan rahim segera mungkin hingga dengan kontraksi dan retraksi rahim. Perdarahan dapat terhenti. Persalinan dapat dipercepat dengan pemecahan ketuban dan pemberian infus dengan oxytocin.

Jadi pada solusio plasenta pemecahan ketuban tidak dimaksudkan untuk hentikan perdarahan dengan segera seperti pada placenta previa tapi untuk mempercepat persalinan dengan pemecahan ketuban regangan dinding rahim berkurang dan kontraksi rahim menjadi lebih baik, disamping tindakan tersebut transfusi sangat penting (Winkjosastro, 2005).

  1. Manifestasi Klinis

ü  Gejala Utama

Perdarahan pervaginam berwarna kehitaman dengan uterus yang terasa nyeri dan tegang.

ü  Gambaran klinik

Perdarahan yang timbul akibat solusio plasenta lebih sering terjadi pada triwula ketiga kehamilan. Penampilan klinik solusio plasenta dapat dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu:

  • Solusio plasenta ringan:

ari-ari terlepas sebagian kecil. Ditunjukkan dengan gejala perut sedikit nyeri, rahim mulai menegang dan keluar darah agak kehitaman

  • Solusio plasenta sedang:

seperempat bagian ari-ari telah terlepas. Perut akan nyeri, rahim tak berhenti menegang dan pendarahan dari vagina. Mungkin darahnya tidak banyak tapi sebenarnya pendarahan hebat terjadi di dalam tubuh sekitar 1.000 ml. Ibu hamil akan syok kehilangan kesadaran serta kemungkinan janin meninggal. Jika janin masih hidup, kondisinya sudah gawat.

  • Solusio plasenta :

berat lebih dari duapertiga bagian ari-ari telah terlepas. Perut akan sangat tegang dan sangat nyeri. Ibu hamil syok dan janin sudah meninggal. Pendarahan kemungkinan tidak sampai keluar karena sudah terjadi pembekuan darah di dalam tubuh.

Solusio plasenta yang ringan, pada umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas, perdarahan antepartum hanya sedikit, dalam hal ini diagnosis baru kita tegakkan setelah anak lahir. Pada plasenta kita dapat koagulum-koagulum darah dan krater.

Pada keadaan yang agak berat kita dapat membuat diagnosis berdasarkan:

  1. Anamnesis

o   Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut; kadang-kadang pasien bisa melokalisir tempat mana yang paling sekit, dimana plasenta terlepas.

o   Perdarahan pervaginam yang bersifat bisa hebat dan sekonyong-konyong (non-recurrent) terdiri dari darah segar dan bekuan-bekuandarah.

o   Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak tidak bergerak lagi).

o   Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, pandangan berkunang-kunang, ibu kelihatan anemis tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar.

o   Kadang-kadang ibu dapat menceritakan trauma dan dan faktor kausal yang lain.

  1. Inspeksi

o   Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan .

o   Pucat, sianosis, keringat dingin.

o   Kelihatan darah keluar pervaginam

  1. Palpasi

o   Fundus uteri tambah naik karena terbentuknya retroplasenter hematoma; uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.

o   Uterus teraba tegang dank eras seperti papan yang disebut uterus in bois (woodenuterus) baik waktu his maupun diluar his.

o   Nyeri tekan terutama di tempat plasenta tadi terlepas.

  • Bagian-bagian janin susah dikenali, karena perut (uterus) tegang.
  1. Auskultasi

Sulit karena uterus tagang. Bila denyut jantung janin terdengar biasanya diatas 140, kemudian turun dibawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari sepertiga.

  1. Pemeriksaan dalam

o   Serviks bisa telah terbuka atau masih tertutup.

o   Kalau sudah terbuka maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang, baik sewaktu his maupun diluar his.

o   Kalau ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya, plasenta ini akan turun kebawah dan teraba pada pemeriksaan, disebut prolapsus plasenta, ini sering dikacaukan dengan plasenta previa.

  1. Pemeriksaan umum

o   Tensi semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh syok.

o   Nadi cepat, kecil, dan filiformis.

  1. Pemeriksaan laboratorium

o   Urin

Albumin (+); pada pemeriksaan sediment terdapat silinder dan lekosit.

o   Darah

Hb menurun (anemia), periksa golongan darah, kalau bisa cross match test.

Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah atau hipofibrionogenemia, maka diperiksakan pula COT (Clot Observation Test) tiap 1 jam, tes kualitatif fibrinogen (fiberindex), dan tes kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 150 mg%)

  1. Pemeriksaan plasenta

Sesudah bayi dan plasenta lahir, kita periksa plasentanys. Biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (krater) dan terdapat koagulum atau darah beku di belakang plasenta, yang disebut hematoma retroplasenter.

  1. Perdarahan pada Solusio Plasenta

Perdarahan pada solusio plasenta bisa mengakibatkan darah hanya ada di belakang plasenta (hematoma retroplasenter); darah tinggal saja didalam rahim yang disebut internal haemorrhage (concealed haemorrhage); masuk merembes ke dalam amnion; atau keluar melalui vagina (antara) selaput ketuban dengan dinding uterus), yang disebut external haemorrhage (revealed haemorrhage).

Jika solusio plasenta lebih berat dapat terjadi couvelair uterus (apopleksi uteroplasenter). Dalam hal ini darah merembes memasuki otot-otot rahim sampai kenawah serosa, bahkan kadang-kadang sampai ke ligamentum latum dan melalui tuba masuk kerongga panggul. Uterus kelihatan lebih besar, dinding uterus penuh dengan bintik-bintik merah hematoma dari kecil sampai besar.

Ada 2 bentuk Couvelair Uterus, yaitu:

  1. Couvelair Uterus dengan kontraksi uterus baik.
  2. Couvelair Uterus dengan kontraksi uterus jelek, sehingga terjadi perdarahan postpartum.

Couvelair Uterus terjadi karena berbagai teori, antara lain vasospasme, perubahan-perubahan toksik, adanya hematoma retroplasenter yang hebat, uterus yang terlalu regang atau a/hipofibrinogenemia. Hal-hal tersebut menyebabkan pembuluh darah dinding uturus pecah.

  1. Diagnosis Banding
  • Solusio plasenta
  • Plasenta previa
  • Rupture uteri
  1. Komplikasi

a)      Langsung (immediate)

  • Perdarahan
  • Infeksi
  • Emboli dan Syok obstetric

b)      Komplikasi tidak langsung (delayed)

  • Couvelair uterus, sehingga kontraksi tak baik, menyebabkan perdarahan postpartum
  • a/hipo-fibrinogenemia dengan perdarahan postpartum
  • nekrosis korteks renalis, menyababkan anuria dan uremia
  • kerusakan-kerusakan argan seperti hati, hipofisis dan lain-lain.
  1. Terapi
    Atasi syok

–   Infus larutan NS/RL untuk restorasi cairan, berikan 500 ml dala 15 menit pertama dan 3 l dalam 2 jam pertama

–   Berikan transfusi dengan darah segar untuk memperbaiki faktor pembekuan akibat koagulatif

–   Tatalaksana oliguria atau nekrosis tubuler akut
Tindakan restorasi cairan, dapat memperbaiki hemodinamika dan mempertahankan eksresi sistem urinaria, tetepai bila syok terjadi secara cepat dan telah berlangsung lama (sebelum dirawat), umumnya akan terjadi gangguan fungsi ginjal yang ditandai dengan oliguria (produkdi urin < 30 ml/jam) pada kondisi yang lebih berat dapat terjadi anuria yang mengarah pada nekrosis tubulus renalis. Setelah restorasi cairan dilakukan tindakan untuk mengatasi gangguan tersebut dengan : Furosemida 40 mg dalam 1 liter krostoloid dengan 40-60 tetes/menit Bila belum berhasil gunakan manital 500 ml dan 40 tetes/menit Atasi hipofibrigonemia Restorasi cairan/darah sesegera mungkin dapat menghindarkan terjadinya koagulopati Lakukan uji beku darah (bedside coagulation test) untuk menilai fungsi pembekuan darah (penilaian tidak langsung kadar ambang fibrinogen)). Carananya sebagai berikut : Ambil darah vena 2 ml masukkan dalam tabung kemudian diobservasi Gangguan bagian tabung yang berisi darah Setelah 4 menit, miringkan tabung untuk melihat lapiran koagulasi dipermukaan, lakukan hal yang sama tiap menit Bila bagian permukaan tidak membeku dalam waktu 7 menit, maka diperkiran titer fibrinogen dianggap di bawah nilai normal (kritis) Bila terjadi pembekuan tipis yang mudah robek bila tabung dimiringkan, keadaan ini juga menunjukan kadar fibrinogen di bawah ambang normal. Bila darah segera tidak dapat segera diberikan, berikan plasma beku segar (15 ml/kg BB) Bila plasma beku segar tidak tersedia, berikan kriopresipatat fibrinogen Pemberian fibrinogen, dapat memperberat terjadinya koagulasi desminato intravaskuler yang berlanjut yang berlanjut dengan pengedapan fibrin, pengendapan fibrin, pembendugan mikrosirkulasi di dalam, di dalam organ-organ vital, seperti ginjal, glandula adrenalis hipofisis dan otak. Bila perdarahan masih berlangsung (koagulatif) dan trombosit di bawah 20.000 berikan konsetra trombosit. Hypofibrinogenemia : coagulopathi ialah kelainan pembekuan darah : dalam ilmu kebidanan paling sering disebabkan oleh solusio plasenta, tapi juga dijumpai pada emboli air ketuban, kematian janin dalam rahim dan perdarahan postpartum. Kadar fibrinogen pada wanita yang hamil biasanya antara 300-700 mg dalam 100 cc. bila kadar fibrinogen dalam darah turun di bawah 100 mg per 100 cc terjadilah gangguan pembekuan darah. Terjadinya hipofibrinogenemia : Fase I : pada pembuluh darah terminal (arteriol, kapiler, vena terjadi pembekuan darah disebut disseminated intravaskuler clotting, akibatnya ialah bahwa peredaran darah kapiler (microcirculasi) terganggu. Jadi pada fase I turunya kadar fibrinogen disebabkan karena pemakaian zat tersebut. Maka fase I disebut juga coagulopatihi consumtif. Diduga bahwa hematom retroplacentair mengeluarkan thtomboplastin yang menyebabkan pembekuan intravaskuler tersebut. Akibat gangguan mikrocirculasi terjadi kerusakan jaringan pada alat-alat yang penting karena hipoxia, kerusakan ginjal menyebabkan oliguri/anuri, akibat gangguan mocrocirculsi ialah shock Fase II : fase regulasi reparatif ialah usaha badan untuk membuka kembali perdarahan. Darah kapiler yang tersumbat. Usaha ini dilaksanakan dengan fibrinolyse. Fibrinolyse yang berlebihan lebih lagi menurunkan kadar fibrinogen hingga terjadi perdarahan patologis Penentuan hypofibrinogenaemi Penentuan fibrinogen secara laboratoris memakan waktu yang lama maka untuk keadaan akut baik dilakukan clot obsevation test. Beberapa CC darah dimasukkan dalam tabung reagens. Darah yang normal membeku dalam 6-15 menit. Jika darah membeku cair lagi dalam 1 jam maka ada aktivitas fibrinolyse (Winkjosastro, 2005). Patofisiologi Terjadinya solusio placenta dipicu oleh perdarahan ke dalam disidua basalis, yang kemudian terbelah dan meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada meometrium sehingga terbentuk hematoma disidual yang menyebabkan perlepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran placenta yang berdekatan dengan bagian tersebut. Ruptur pembuluh arteri spiralis disidua menyebabkan hematoma retroplacenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan placenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban (Mansjoer, 2001). Pengobatan Umum Pemberian darah yang cukup Pemberian O2 Pemberian antibiotica Pada shock yang berat diberi kortikasteroid dalam dosis tinggi Khusus Teraphy hypoibrinogenemi Subtitusi dengan human fibrinogen 10 gram atau darah segar Menghentikan fibrinolyse dengan trasylol (proteinase inhibitor) 200.000 s IV selanjutnya kalau perlu 100.000 s/jam dalam infus Untuk merangsang diurese : mannit/mannitol Deurese yang baik lebih dari 30-40 cc/jam Obstetris Pimpinan persalinan pada solusio placenta bertujuan untuk mempercepat persalinan diharapkan dapat terjadi dalam 3-6 jam. Alasannya adalah : Bagian placenta yang terlepas meluas Perdarahan bertambah Hypofibrinogenaemi menjelma atau bertambah Tujuan ini dicapai dengan : Pemecahan ketuban : pada solusio placenta tidak bermaksud untuk menghentikan perdarahan dengan segera tetapi untuk mengurangi regangan dinding rahim dan dengan demikian mempercepat persalinan Pemberian infus pitocin ialah 5 c dalam 500 cc glucase 5% SC dilakukan : Kalau cerviks panjang dan tertutup Kalalu setelah pemecahan ketuban dan pemberian oxytocin dalam 2 jam belum pecah juga ada his Hysterektomi dilakukan kalau ada atonia uteri yang berat yang tak dapat diatasi dengan usaha-usaha yang lazim. (Manuaba, 1999) Seksio Sesaria Seksio sesaria dilakukan apabila : Janin hidup dam pembekuan belum lengkap Janin hidup, gawat janin, tetapi persalinan pervaginam tidak dapat dilaksanakan dengan segera Janin mati pervaginam dapat berlangsung dalam waktu yang singkat Persiapan untuk sesaria cukup dilakukan penanggulangan awal (stabilisasi dan tatalaksana komplikasi) dan segera lahirkan bayi karena operasi merupakan satu-satunya cara efektif untuk menghentikan perdarahan. Hematoma meometrium tidak mengganggu kontraksi uterus Observasi ketat kemungkinan perdarahan ulang (koagulopatti) (Manuaba, 1999) Partus Pervaginam Partus pervaginam dilakukan apabila : Janin hidup, gawat janin, pembekuan lengkap, dan bagian terendah didasari panggul Janin telah meninggal dan pembukaan serviks > 2 cm.

Pada kasus pertama, amniotomii (bila ketuban belum pecah), kemudian percepat kala II dengan ekstraksi forceps (vakum)

Untuk kasus kedua, lakukan amniotomi (bila ketuban belum pecah) kemudian akselerasi dengan 5 unit oksitosin dla dekstore 5% atau RL, tetesan diatur sesuai dengan kondisi kontraksi uterus.

Setelah persalinan, gangguan pembekuan darah akan membaik dalam waktu 24 jam, kecuali bila jumlah trombosit sangat rendah (perbaikan batu terjadi dalam 2-4 hari kemudian).(Manuaba, 1999)

BAB III

KONSEP MANAJEMENT ASUHAN KEBIDANAN

 

            Proses manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah agar pelayanan yang komprehensif dapat tercapai. Proses manajemen terdiri dari tujuh langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dari pengumpulan data dasar yang berakhr dengan evaluasi. Kutujuh langkah tersebut membentuk kerangka lengkap yang dapat diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi, setiap langkah-langkah dapat dipecah menjadi langkah-langkah tertentu dan bias berubah sesuai dengan bagaimana keadaan pasien.

Tetapi disini hanya lima langkah saja yang akan di bahas yaitu dari pengumpulan data sampai pada Perencanaan asuhan.

Pembahasan dari kelima langkah tersebut adalah :

  1. Langkah I (Pengkajian)
  1. DATA SUBJEKTIF

1)            Biodata atau identitas pasien:

a)            Istri

  • Nama

Perlu ditanyakan agar tidak keliru bila ada kesamaan nama dengan klien.

  • Umur

Perlu ditanyakan untuk mengetahui pengaruh umur terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Dalam kurun waktu reproduksi sehat, dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun.

  • Alamat

Ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan bila diperlukan bila keadaan mendesak. Dengan diketahuinya alamat tersebut, bidan dapat mengetahui tempat tinggal pasien/klien dan lingkungannya. Dengan tujuan untuk memudahkan menghubungi keluarganya, menjaga kemungkinan bila ada nama ibu yang sama, untuk dijadikan petunjuk saat kunjungan rumah.

  • Pekerjaan

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Dengan mengetahui pekerjaan pasien/klien, bidan dapat mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonominya agar nasehat bidan sesuai, juga mengetahui apakah pekerjaan mengganggu atau tidak, misalnya bekerja di pabrik rokok, mungkin yang dihisap akan berpengaruh pada janin.

  • Agama

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien. Dengan diketahuinya agama pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

  • Pendidikan

Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.

  • Status Perkawinan

Pertanyaan ini dilakukan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh status perkawinan terhadap masalah kesehatan. Bila diperlukan ditanyakan tentang perkawinan keberapa kalinya.

  • Suku/Ras

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya suku/ras pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

b)            Suami

  • Nama

Perlu ditanyakan agar tidak keliru bila ada kesamaan nama dengan klien.

  • Umur

Perlu ditanyakan untuk mengetahui pengaruh umur terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien.

  • Alamat

Ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan bila diperlukan bila keadaan mendesak. Dengan tujuan untuk memudahkan menghubungi suami pasien/klien.

  • Pekerjaan

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan suami terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Dengan mengetahui pekerjaan suami pasien/klien, bidan dapat mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonominya agar nasehat bidan sesuai, juga mengetahui apakah pekerjaan mengganggu atau tidak, misalnya bekerja di pabrik rokok, mungkin yang dihisap akan berpengaruh pada janin.

  • Agama

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya agama pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

  • Pendidikan

Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya. Tingkat pendidikan suami juga mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seorang istri.

  • Status Perkawinan

Pertanyaan ini dilakukan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh status perkawinan terhadap masalah kesehatan. Bila diperlukan ditanyakan tentang perkawinan keberapa kalinya.

  • Suku/Ras

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya suku/ras pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

2)            Riwayat pasien

a)            Keluhan utama

Ditanyakan untuk mengetahui perihal yang mendorong pasien datang kepada bidan. Untuk mengetahui keluhan utama tersebut pertanyaan yang diajukan oleh bidan adalah sebagai berikut: “Apa yang ibu rasakan, sehingga ibu datang kemari?”

b)            Riwayat menstruasi

Untuk mengetahui gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksi pasien/klien.

c)            Menarche

Untuk mengethui usia pertama kalinya mengalami menstruasi.

d)           Siklus Menstruasi

Untuk mengetahui jarak antara menstruasi yang dialami dengan menstruasi berikutnya, dalam hitungan hari. Biasanya sekitar 23 sampai 32 hari.

e)            Volume

Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstruasi yang dikeluarkan. Kadang kita akan kesulitan untuk mendapatkan data yang valid. Sebagai acuan biasanya digunakan criteria banyak, sedang, sedikit. Jawaban yang diberikan oleh pasien biasanya bersifat subjektif, namun kita dapat kaji lebih dalam lagi dengan beberapa pertanyaan pendukung, misalnya sampai berapa kali mengganti pembalut dalam sehari.

f)             Keluhan

Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang dirasakan ketika mengalami menstruasi, misalnya nyeri hebat, sakit kepala sampai pingsan, atau jumlah darah yang banyak. Keluhan yang disampaikan oleh pasien dapat menunjuk kepada diagnosis tertentu.

g)            Menstruasi yang Terakhir

Untuk mengetahui prediksi waktu mengenai kapan menstruasi yang akan datang.

h)            Dismenorhea

Untuk mengetahui ketika haid terjadi nyeri atau sulit. Dismenorhea ditandai oleh nyeri mirip kram yang terasa pada abdomen bagian bawah dan kadang-kadang oleh sakit kepala, keadaan mudah tersinggung, depresi mental, keadaan tidak enak badan serta perasaan lelah.

i)              Keteraturan Menstruasi

Untuk mengetahui jarak normal keteraturan menstruasi biasanya 23 sampai 32 hari. Apabila terjadi ketidak teraturan menstruasi pada pasien dapat segera dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui factor-faktor penyebabnya.

j).      Fluor albus

Untuk mengetahui pada umumnya adanya cairan di dalam vagina bertambah dalam kehamilan tanpa sebab-sebab yang patologis dan sering menimbulkan keluhan. Ganococcus menyebabkan flour seperti nanah, Trichomonasvaginalis menyebabkan flour yang putih berbau, sedangkan candida albicans menyebabkan flour dengan gumpalan putih atau kuning dan menyebabkan gatal yang sangat.

k)      Gangguan sewaktu Menstruasi

Untuk mengetahui gangguan apa saja yang dirasakan ketika mengalami menstruasi,misalnya nyeri hebat,sakit kepala sampai pingsan, atau keadaan mudak tersinggung (emosional meningkat). Gangguan yang dialami pasien dapat menunjuk kepada diagnosis tertentu.

3)      Riwayat perkawinan

Perlu ditanyakan untuk mengetahui pengaruh riwayat perkawinan terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Berapa kali kawin dan berapa lamanya untuk membantu menentukan bagaimana keadaan alat kelamin ibu. Kalau orang hamil sudah lama kawin, nilai anak tentu besar sekali dan ini harus diperhitungkan dalam pimpinan persalinan (anak mahal).

Hal-hal yang perlu ditanyakan kepada pasien/klien mengenai riwayat perkawinannya adalah :

1.            Kawin : …………………..kali

2.            Usia Kawin Pertama ………………………tahun

3.            Status Perkawinan

4.            Lama Pernikahan

4)            Riwayat kehamilan dan persalinan

Untuk mengetahui adanya masalah-masalah persalinan kehamilan dan nifas yang lalu. Pertanyaan ini mempengaruhi prognosa persalinan dan persiapan persalinan yang lampau adalah hasil ujian-ujian dari segala faktor yang mempengaruhi persalinan. Mencakup :

  • Jumlah Kehamilan dan kelahiran: G (gravida), P (para), A (abortus), H (hidup)

Data ini digunakan untuk mengetahui riwayat kehamilan dan kelahiran pasien.

  • Golongan Darah

Data ini menjelaskan golongan darah pasien, hal ini dilakukan untuk sumber informasi jika ketika kehamilan atau persalinan mengalami pendarahan penanganan penggantian darah yang keluar melalui transfusi darah lebih cepat dilakukan.

  • Riwayat persalinan

Mencakup jarak antara dua kelahiran, tempat melahirkan, lamanya melahirkan, cara melahirkan. Dengan mengetahui riwayat persalinan, melihat kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu hamil saat persalinan sekarang dan mengupayakan pencegahannya dan penanggulangannya.  Jika persalinan dahulu terdapat penyulit seperti perdarahan, sectio saesaria, solusio plasenta, plasenta previa kemungkinan dapat terjadi atau timbul pada persalinan sekarang.

  • Masalah atau gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan

Untuk mengetahui masalah atau gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan, jika terdapat penyulit diupayakan pencegahannya dan penanggulangannya.

5)            Riwayat nifas

Untuk mengetahui adakah penyakit atau kelainan pada masa nifas yang lalu (perdarahan, feloris).

6)            Riwayat kelahiran anak

a)            Berat bayi sewaktu Lahir

Untuk mengetahui kondisi bayi apakah sehat atau mengalami trauma lahir dimana hal ini terjadi karena trauma pada bayi akibat tekanan mekanik (seperti kompresi dan traksi) selama preses persalianan. Kejadian ini terjadi pada berat badan bayi lebih dari 4.500 gram.

b)            Kelainan Bawaan Bayi

Untuk dapat segera melakukan tindakan preventif pada bayi agar tidak memperparah kondisi.

c)            Jenis Kelamin Bayi

Untuk mengetahui jenis kelamin bayi sebagai dokumentasi.

d)           Status Bayi yang Dilahirkan: hidup atau mati

Bila bayi hidup, bagaimana keadaannya sekarang,

Bila meninggal, apa penyebab kematiannya.

7)            Riwayat Ginekologi

Data ini sangat penting karena akan memberikan petunjuk tentang organ reproduksi pasien. Mencakup: infertilitas, penyakit kelamin, tumor atau kanker sistem reproduksi, operasi ginekologi. Jika didapatkan adanya salah satu atau beberapa riwayat gangguan kesehatan alat reproduksi, maka harus waspada akan adanya kemungkinan gangguan kesehatan alat reproduksi pada masa postpartum.

8)            Riwayat keluarga berencana

Untuk mengetahui apakah ada efek samping setelah penggunaan kontrasepsi, lamanya menggunakan alat kontrasepsi,  alasan pemakaian serta pemberhentian kontrasepsi (bila tidak memakai lagi), serta keluhan selama memakai alat kontrasepsi.

9)            Riwayat kehamilan sekarang

Mencakup waktu mendapat haid terakhir, siklus haid, perdarahan pervaginam, fluor, mual/muntah, masalah kelainan pada kehamilan sekarang, pemakaian obat-obatan/jamu. Anamnesa haid serta siklusnya dapat diperhitungkan tanggal persalinan serta memantau perkembangan kehamilannya serta dengan anamnesa ini dapat diketahui dengan segera adanya kelainan / masalah dalam kehamilan dan dapat ditangani dengan segera.

10)        Riwayat penyakit

Untuk mengetahui riwayat penyakit yang pernah diderita pasien/klien. Informasi ini penting untuk melihat kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu hamil dan mengupayakan pencegahannya dan penanggulangannya. (Depkes RI, 1993:65), misal:

a)         Ibu hamil dengan riwayat penyakit hipertensi perlu ditentukan pimpinan persalinan dan kemungkinan bisa menyebabkan transient hipertension.

b)         Ibu hamil dengan riwayat penyakit TBC akut kemungkinan bisa menyebabkan kuman saat persalinan dan bisa menular pada bayi.

c)         Ibu dengan riwayat DM mempunyai pengaruh terhadap persalinannya dan bayi bisa cacat bawaan, janin besar.

d)        Ibu menderita hepatitis kemungkinan besar bayi akan tertular melalui ASI. (Sarwono, 1999:401)

11)          Gambaran penyakit yang lalu

Setelah mengetahui riwayat penyakit pasien/klien, bidan perlu mengetahui gambaran mengenai riwayat penyakit pasien/klien, misal apakah penyakit tersebut parah/tidak, apakah sudah dilakukan tindakan pada penyakit tersebut, dll. Informasi ini penting untuk melihat kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu hamil dan mengupayakan pencegahan dan penanggulangannya.

12)              Riwayat penyakit keluarga

Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan ibu dan janinnya. Penyakit keluarga yang perlu ditanyakan mencakup penyakit kanker, jantung, hipertensi, diabetes, ginjal, jiwa, kelainan dibawa lahir, kehamilan kembar atau lebih, TBC, epilepsy, penyakit darah, alergi, penyakit yang menyebabkan kematian bagi bapak atau ibu yang telah meninggal.

13)              Keadaan sosial budaya, ekonomi, dan budaya

Untuk mengetahui keadaan psikososial pasien atau klien perlu ditanyakan antara lain :

  • Jumlah anggota keluarga
  • Dukungan materiil dan moril yang didapat dari keluarga.
  • Kebiasaan-kebiasaan yang menguntungkan kesehatan.
  • Kebiasaan yang merugikan kesehatan.

14)              Riwayat spiritual

Kemungkinan pasien melakukan ibadah agama dan kepercayaannya dengan baik dan memudahkan kita dalam memberikan asuhan yang sesuai dengan kepercayaan klien.

15)              Riwayat pikologis

Kemungkinan adanya tanggapan klien dan keluarga yang baik terhadap kehamilan dan persalinan yang ini. Keungkinan pasien dan suaminya mengharapkan dan senang dengan kehamilan ini. Atau kemungkina klien cemas, takut dan gelisah dengan kehamilan ini.

16)              Kebutuhan dasar

Kemungkinan pemenuhan kebuuhan bio-psiko yang meliputi pemenuhan nutrisi, proses eliminasi, aktifitas sehari-hari, istirahat, personan hygiene, dan kebiasaan-kebiasaan yang dapat mempengaruhi esehatan saat hamil dan bersalin.

  1. DATA OBJEKTIF

Data dikumpulkan melalui pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus.

a)            Pemeriksaan umum

Secara teoritis kemungkinan di temukan gambaran keadaan umum pasien baik, yang mencakup kesadaran, tekanan darah, nadi, nafas, suhu, tinggi badan dan keadaan umum.

b)            Pemeriksaan khusus

1)               Secara inspeksi, yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat/memandang dari kepala sampai ujung kaki.

Yang dinilai ialah kemungkinan bentuk tubuh yang normal, kebersihan kulit, rambut, muka, conjunctiva, skelera, hidung dan telinga, mulut, apakah ada caries dentis, stomatitis, karang gigi, leher apakah ada pembesaran kelenjar gondok, payudara apakah simetris kiri dan kanan, keadaan putting susu menonjol atau tidak, colostrums ada atau tidak, perut membesar sesuai dengan tua kehamilan, apakah ada bekas luka operasi, vulva apakah bersih, ada varises atau tidak, oedema dan pengeluaran dari vagina. Anus apakah ada haemorhoid, extremitas atas dan bawah apakah ada kelainan.

2)               Secara palpasi, yaitu pemeriksaan yangdilihat dengan cara meraba.

Dengan cara menggunakan cara Leopold, kemungkinan yang ditemukan ialah :

Leopold I             : tinggi fundu uteri dalam cm, pada fundus kemungkinan teraba  bagian kepala, bokong atau lainnya.

Leopold II           :pada dinding perut sebelah kanan atau kiri ibu kemungkinan teraba punggung, anggota gerak atau bokong, kepala.

Leopold III          :teraba bagian bokong, kepala atau lainnya

Leopold IV          :bagian terbawah janin belum masuk PAP, karena terhambat oleh placenta yang letaknya di segmen bawah rahim.

3)               Secara auskultasi

Kemungkinan dapat terdengar bunyi jantng janin, frekuensinya, teratur atau tidak dan posisi puctum maksimum.

4)               Secara perkusi

Kemungkinan refleks patella kiri dan kanan positif.

5)               Pemeriksaan ukuran panggul

Kemungkinan normal dengan pengukuran jangka panggul.

6)               Pemeriksaan tafiran berat badan janin (TBJ)

Kemungkinan berat janin normal, dengan menggunakan rumus:

(TFU dlm cm – 13) x 155

Kemudian ditambah 375 untuk lingkaran abdomen yang lebih dari 100cm.

  1. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a)            Laboratorium

Darah     :Hb, Haematokrit, golongan darah, kadar estriol.

Urine      :kemungkinan ditemui protein aceton, dan kadar estriol yang berkurang, reduksi.

b)            USG

Kemungkinan keadaan janin hidup  dan dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan kesejahteraan janin.

c)            Pemeriksaan CTG (kardiografi)

Pemeriksaan ini bertujuan untuk memantau detak jantung janin, hasil pemantauan detak jantung janin, tergantung dari klasifikasi dan cepatnya plasenta terlepas sehingga dapat mempengaruhi sirkulasi retroplasenter yang selanjutnya akan langsung mempengaruhi nutrisi dari pertukaran O2/CO2 intraplasenta.

  1. Langkah II (Interpretasi Data Dasar)

Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosadan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.

Berdasarkan kasus ini, maka kemungkinan interpretasi data yang timbul adalah ;

  1. Diagnosa Kebidanan

Kehamilan dengan solusio plasenta, G…, P…, A…, H….

Dasar :

  1. Nyeri tekanan uterus dan tegang
  2. Leopold I  : T Fut, TBBJ
  3. Leopold II : Puki, Puka atau lainnya (letak sungsang atau letak lintang)
  4. Leopold III: bisa kepala, bokong, letak lintang ataupun letak sungsang
  5. Leopold IV: Bagian terbawah janin belum masuk PAP
  6. DJJ  : kadang tidak terdengar (sulit dinilai)
  7.  Ibu mengatakan hamil anak…
  8. bagian-bagian janin sukar dinilai
  9. tidak ada air ketuban berwarna kemerahan karena bercampur darah jika ada pengeluaran pervaginam
  10. Masalah

Masalah yang kemungkinan timbul adalah kecemasan dan gangguan sehubungan dengan terjadinya gangguan rasa nyaman.

Dasar : Ibu mengatakan merasa nyeri dan kadang-kadang perutnya tertekan dan tegang

  1. Kebutuhan

1)      Penyuluhan tentang istirahat ibu

Dasar : dari TTV dan KU ibu

2)      Dukungan psikologi

Dasar : karena ibu mengatakan cemas

3)      Kebersihan vulva

Dasar : pencegahan infeksi dan rasa nyaman

4)      Hidrasi

Dasar : kebutuhan cairan dan nutrisi sangat penting apalagi jika ibu anemia

5)      Rasa nyaman

Dasar : karena Ibu mengatakan merasa nyeri dan kadang-kadang perutnya tertekan dan tegang.

6)      Penyululuhan tentang resiko persalinan

Dasar : karena agar ibu lebih mempersiapkan persalinannnya.

7)      Ajarkan ibu posisi yang benar pada ibu hamil

Dasar : berhubungan dengan rasa nyaman.

  1. Langkah III ( Mengidentifikasi Diagnosa Atau Masalah Potensial)

Kemungkinan diagnosa atau masalah potensial yang timbul :

  1. Potensial terjadi gawat janin

Dasar : karena plasenta yang lepas sebelum waktunya, karena terputusnya hubungan antara janin dan ibu sehingga dapat mempengaruhi nutrisi dan pertukaran O2/CO2 intraplasenta.

  1. Potensial terjadi hipoksia pada janin

Dasar : karena terputunya hubungan antara janin dan ibu sehingga dapat mempengaruhi nutrisi dan pertukaran O2/CO2 intraplasenta.

  1. Langkah IV (Identifikasi Kebutuhan Yang Memerlukan Penangan Segera)

Kemungkinan tindakan segera pada kasus kehamilan/persalinan dengan solusio plasenta antara lain :

  1.  Kolaborasi dengan dokter segera mungkin jika terjadi komplikasi yang lebih hebat
  1. Langkah V (Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh)

Langkah ini merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasikan atau merupakan lanjutan dari setiap masalah yang berkaitan dengan kerangka pedoman tentang apa yang akan terjadi berikutnya, penyuluhan, konseling dan rujukan untuk masalah sosial, ekonomi, kultural, atau masalah psikologis bila diperlukan. Suatu rencana asuhan harus di setujui oleh kedua belah pihak baik bidan maupun klien agar perencanaan dapat dilakukan dengan efektif. Semua keputusan harus bersifat rasional dan valid berdasarkan teori serta asumsi yang berlaku tentang apa yang akan dan tidak dilakukan.

Adapun rencana asuhan yang dibutuhkan pasien dalam kasus ini yaitu:

  1. Jelaskan keadaan ibu saat ini
  2. Anjurkan ibu untuk melahirkan ditenaga kesehatan atau rumah sakit
  3. Ajarkan pada ibu untuk mengatasi gangguan rasa nyaman
  4. Ajarkan pada ibu untuk senam hamil
  5. Pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu
  6. Jelaskan tentang gizi ibu hamil
  7. Ajarkan cara minum Fe
  8. Jelaskan tanda-tanda persalinan
  9. Cara mengurangi rasa sakit
  10. Jelaskan pengaruh sering BAK adalah normal

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Cunningham FG. 2006. Obstetri William Vol. 1. Jakarta: EGC. pp: 685-704.
  2. Manuaba prof.dr.ida bagus Gde ,dkk.2003.pengantar kuliah obstetri,jakarta: buku kedokteran EGC
  3. Prawirohardjo sarwono.2009.ilmu kebidanan,jakarta:PT bina pustaka.
  4. Yeyeh R ai,2010.asuhan kebidanan IV patologi,jakarta:trans info media.
0

KETIDAKNYAMANAN UMUM PADA KEHAMILAN

KETIDAKNYAMANAN UMUM PADA KEHAMILAN

1. NYERI PUNGGUNG BAGIAN BAWAH

Trimester 1,2,3

Penyebab

  • Semakin umur janin anda meningkat,maka rahim anda akan bertambah besar, sehingga terjadi peregangan otot perut otot perut bagian bawah ( dekat selangkangan ) anda kembali menegang
  • Berat rahim dan payudara yang membesar akan menarik ke depan tubuh anda. Perbaiki postur anda

 

Yang harus dilakukan

  • Pakailah sepatu bertumit rendah
  • Perhatikan postur tubuh anda
  • Pastikan untuk menekuk lutut dan menjaga punggung lurus ketika anda membungkuk atau mengangkat beban . Angkat dengan kaki bukan punggung
  • Lakukan pelvic rocking dengan memiringkan panggul dan latihan pose cat ( merangkak dengan melengkungkan dan merileksikan punggung )
  • Tidur miring dengan bantal di letakkan antara kaki anda
  • Ketika duduk meletakkan kaki anda di bangku kecil untuk menjaga pinggul dan lutut selaras
  • Ketika berdiri untuk waktu yang
  •  lama letakkan satu kaki pada bangku rendah
  • Mandi hangat dan pijat dapat menenengkan
  • Toko persalinan dan took peralatan medis biasanya menjual ikat pinggang dan bahan pengikat yang membantu ibu untuk tetap merasa nyaman menyangga rahim
  • Sakit punggung yang dirasakan bisa lebih nyaman dengan istirahat dan kompres dingin
  • Hindari sembelit,makan banyak serat
  • Anda juga dapat mengunjungi chiropractor untuk membantu memperbaiki sakit punggung anda
  • Pada trimester kedua dan ketiga,nyeri punggung yang datang dan pergi setiap beberapa menitmungkin merupakan awal persalinan,hubungi dokter / bidan anda.

 

B. PENINGKATAN PENGELUARAN VAGINA  

Trimester 1,2,3

Penyebab

  • Perubahan hormon dapat meningkatkan produksi lender leher rahim atau cairan vagina,ini biasanya berwarna kuning muda atau putih dan tidak menimbulkan rasa sakit atau gatal
  • Perubahan hormon juga membuat anda lebih rentan terhadap infeksi jamur

Yang harus dilakukan

  • Anda mungkin merasa lebih nyaman memakai pad mini / pantyliners,namun jangan terlalu sering / sepanjang hari pakai panty ( kurang sehat )
  • Pakailah pakaian katun untuk membantu mencegah infeksi jamur
  • Jangan melakukan douche selama kehamilan
  • Jika lendir berwarna putih dan seperti keju cottage,dan menyebabkan gatal dan nyeri,anda mungkin memiliki infeksi jamur,konsul ke Dokter anda sebelum menggunakan obat
  • Konsul ke Dokter jika anda mengalami nyeri vagina atau keputihan semakin berwarna atau berbau busuk, anda mungkin menderita infeksi yang memerlukan perawatan
  • Peningkatan pengeluaran lendir vagina mungkin tanda bahwa serviks pembukaan ( dilatasi ).Hal ini terjadi sebelum 37 minggu,hubungi dokter / bidan anda segera

 

3.MENGIDAM MAKANAN

Adalah pertanda didalanm badan ibu hamil terjadi perubahan besar yang menyangkut susunan enzim dan hormon.Dengan demikian tubuh ibu menjadi lebih efisien menyerap zat gizi dan makanan sehari-hari.Ngidam tidak ada dalam istilah dunia madis,ini lebih dikaitkan dengan aspek psikologis ibu hamil dan keseimbangan mental dalam menjalani kehamilan.Sampai sekarang belum diketahui dengan pasti penyebab dari ngidam.Pada perempuan tang sedang hamil terjadi peningkatan hormone salah satunya adalah hormone progesteron.Peningkatan hormone ini berpengaruh pada fungsi metabolism tubuh dan salah satunya terjadi pada pencernaan serta produksi air liur

Perubahan-perubahan mendadak pada saluran percernaan ini kerap terjadi pada hiperaktivitas hormone dalam trimester pertama,walaupun ngidam dan penolakan makanan dapat hilang sesudah waktu itu dibulan keempat mereka dapat muncul kembali

Tanda – tanda ngidam

  • Nafsu makan menurun
  • Merasa mual
  • Muntah,namun hanya beberapa bulan yang disudahi dengan naiknya nafsu makan

Syarat menu

Menu makanan yang baik untuk ibu yang sedang ngidam adalah hidangan yang tewrasa segas dan asam.Mamfaatkanbanyak buah dan sayuran segar,bila mual dan muntah upayakan porsi kecil tetapi sering / masakan panas yang dihidangkan panas.Hidangkan makanan segar yang banyak memakai tomat,asam dan lain-lain dan upayakan terus makan sesuai porsi,pilihlah makanan yang padat kalori sehingga porsi akan bisa dihadirkan kecil

Zat gizi yang diperlukan

1)      Karbohidrat adalah sumber energy utama terdiri dari dua jenis

  • Karbohidrat sederhana seperti gula pasir,gula merah
  • Karbohidrat kompleks seperti:tepung,beras,jagung,gandum

2)      Protein adalah zat gizi untuk pertumbuhan janin yang sedang tumbuh memerlukan protein tambahan disamping kebutuhan ibu sendiri

Protein terdapat dalam ikan,ayam,daging,susu,telur,kacang-kacangan,tahu,dan tempe

3)      Lemak merupakan sumber kalori dan melarutkan vitamin A,D,E,K terdapat didalam minyak goreng,margarine,mentega,dan dalam bahan makanan hewan atau nabati

4)      Vit A penting untuk pertumbuhan tulang,mata,rambut,kulit,mencegah kelainan bawaan.Sumbernya adalah susu,keju,mentega,hati,kuning telur,minyak ikan.Provitamin A terdapat dalam sayuran berwarna seperti daun singkong,kangkung,bayam,wortel,tomat dan buah berwarna.Provitamin A didalam tuibuh akan diubah menjadi vitamin a dengan adanya lemak

5)      Vitamin B terdiri sekelompok vitamin yang berfungsi menjaga system susunsn saraf agar berfungsi normal. Vitamin ini terdapat dalam nasi,roti,susu,daging dan makanan yang difprmulasi seperti tempe

6)      Vitamin C berguna untuk pembentukan dan keutuhan jaringan dan peningkatan penyerapan zat besi,terdapat dalam buah,sayur dan sayuran segar

7)      Zat besi berguna untuk pertumbuhan sel-sel darah merah yang diperlukan untuk pertumbuhan janin.Sumber zat besi adalah daging,ikan,hati,ayam serta dalam jumlah sedikit dari sayur-sayuran

8)      Kalsium berguna untuk pertumbuhan tulang dan gigi ,penggumpalan darah dan mempertahankan fungsi normal otot serta susunan saraf.Susu sapi dan produknya merupakan sumber yang baik

9)      Seng mencegah kelainan congenital untuk perkembangan otat normal,mencegah retardasi / kemunduran pertumbuhan janin.Sumbernya daging,hati,telur,ayam,seafoot,susu dan kacang-kacangan

10)  Iodium ( yodium ) penting untuk susunan saraf pusatyang terkait dengan daya piker dan pendengaran.Kekurangan iodium sewaktu hamil dapat mengakibatkan lahirnya anak cacat fisik,cacat mental ,sangat rendah kemampuan pendengaranbahkan tulin sama sekali.Sumbernya makanan dari laut,rumput laut dan lain-lain

11)  Air merupakan salah satu unsure vital dalam kehidupan,apalagi dalam masa mengidam yang diiringi muntah,upayakan masukan air tetap dijaga.Yang baik adalah air dalam buah-buahan karena tidak hanya mendapatkan air saja tetapi juga vitamin yang terkandung dalam buah itu

 

4.VARISES

Trimester 1,2,3

Penyebab

Penipisan katup dalam vena dapat menghambat peredaran darah dari kaki menuju jantung.Selama kehamila,ini katup mungkin meregang,darah extra mengumpul dipembuluh darah menyebabkan membengkak.

Rahim yang membesar juga dapat membatasi peredaran darah kembali dari kaki

Varises ( bengkak ) pembuluh darah biasanya terjadi pada paha dan betis,tetapi mungkin terjadi pada vulva.Vena ini dapat menyakitkan

Varises dapat memperburuk dengan setiap kehamilan

Yang harus dilakukan

  • Hindari menyilangkan kaki anda dan berdiri untuk waktu yang lama
  • Kaki latihan membantu menjaga darah bergerak / beredar dengan lancar melalui kaki
  • Letakkan kaki lebih tinggi dari kepala selama 10-20 menit,hal ini sangat berguna bagi wanita yang kakinya sakit
  • Hindari pakaian ketat,lakukan cukup olah raga,berjalan kaki merupakan pilihan
  • Untuk varicosities vulva mandi sitz dingin

5.Nyeri selama berhubungan seks

Trimester I & III

Penyebab

  • Hipervaskurisasi pada dinding vagina ( tanda catwik )
  • Bila berhubungan seks dapat menyebabkan nyeri
  • Nenimbulkan kontraksi uterus karena adanya rangsangan seksual
  • Kepala bagian terbawah janin menekan pembuluh darahsekitar panggul
  • Sirkulasi daerah panggul dan dan genitalia kurang lancar kadang menimbulkan oedema dan varises,sehingga dapat mengganggu aktifitas seksual dan rasa nyeri

Yang harus dilakukan

  • Hati – hati dalam berhubungan seks lihat kondisi yang aman
  • Bila tidak ada keluhan boleh berhubungan seks
  • Cari posisi yang sesuai dengan kondisi ibu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Prof.dr.I.B.G.Manuaba,Sp.OG(K)

dr.I.A.Chandranita Manuaba,Sp.OG

dr.I.B.G.Fajar Manuaba,Sp.OG Buku Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan & KB untuk pendidikan bidan ( Edisi 2 )

Dr.Sunrina www info.ibu.com

Bidan Yesie Aprillia S.Si.T,M.Kes

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0

Penanganan Kegawatdaruratan Pada Kasus Asfiksia Neonaturum Dan Rujukan

Penanganan Kegawatdaruratan Pada Kasus Asfiksia Neonaturum Dan Rujukan

1.      PENGERTIAN

Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan (Asuhan Persalinan Normal, 2007).

Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul. (Wiknjosastro, 1999).

Jadi, asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas dengan spontan dan teratur segera setelah lahir.

2.      TANDA-TANDA DAN GEJALA

  • Tidak bernafas atau bernafas megap-megap
  • Warna kulit kebiruan
  • Kejang
  • Penurunan kesadaran
  • Apgar score di bawah 7
  • Hipoksia
  • Denyut jantung < 100 x/ menit

3.      PERTOLONGAN / PENATALAKSANAAN

Pertolongan pertama untuk mengatasi asfiksia pada neonaturum ialah untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dalam membatasi gejala sisa (sekuele) yang mungkin timbul dikemudikan hari. Tindakan pada bayi asfiksia disebut resusitasi bayi baru lahir.

Lngkah-langkah resusitasi :

  • Letakkan bayi di lingkungan yang hangat kemudian keringkan tubuh bayi dan selimuti tubuh bayi untuk mengurangi evaporasi.
  • sisihkan kain yang basah kemudian tidurkan bayi terlentang pada alas yang datar.
  • Ganjal bahu dengan kain setinggi 1 cm (snifing positor).
  • Hisap lendir dengan penghisap lendir de lee dari mulut, apabila mulut sudah bersih kemudian lanjutkan ke hidung.
  • Lakukan rangsangan taktil dengan cara menyentil telapak kaki bayi dan mengusap-usap punggung bayi.
  • Nilai pernafasanJika nafas spontan lakukan penilaian denyut jantung selama 6 detik, hasil kalikan 10. Denyut jantung > 100 x / menit, nilai warna kulit jika merah / sinosis penfer lakukan observasi, apabila biru beri oksigen. Denyut jantung < 100 x / menit, lakukan ventilasi tekanan positif.
    • Jika pernapasan sulit (megap-megap) lakukan ventilasi tekanan positif.
    • Ventilasi tekanan positif / VTP dengan memberikan O2 100 % melalui ambubag atau masker, masker harus menutupi hidung dan mulut tetapi tidak menutupi mata, jika tidak ada ambubag beri bantuan dari mulur ke mulut, kecepatan PPV 40 – 60 x / menit.
    • Setelah 30 detik lakukan penilaian denyut jantung selama 6 detik, hasil kalikan 10.
    • 100 hentikan bantuan nafas, observasi nafas spontan.
    • 60 – 100 ada peningkatan denyut jantung teruskan pemberian PPV.
    • 60 – 100 dan tidak ada peningkatan denyut jantung, lakukan PPV, disertai kompresi jantung.
    • < 10 x / menit, lakukan PPV disertai kompresi jantung.
    • Kompresi jantung
    • perbandingan kompresi jantung dengan ventilasi adalah 3 : 1, ada 2 cara kompresi jantung :

v  Kedua ibu jari menekan stemun sedalam 1 cm dan tangan lain mengelilingi tubuh bayi.

v  Jari tengah dan telunjuk menekan sternum dan tangan lain menahan belakang tubuh bayi.

  • Lakukan penilaian denyut jantung setiap 30 detik setelah kompresi dada.
  • Denyut jantung 80x./menit kompresi jantung dihentikan, lakukan PPV sampai denyut jantung > 100 x / menit dan bayi dapat nafas spontan.
  • Jika denyut jantung 0 atau < 10 x / menit, lakukan pemberian obat epineprin 1 : 10.000 dosis 0,2 – 0,3 mL / kg BB secara IV.
  • Lakukan penilaian denyut jantung janin, jika > 100 x / menit hentikan obat.
  • Jika denyut jantung < 80 x / menit ulangi pemberian epineprin sesuai dosis diatas tiap 3 – 5 menit.
  • Lakukan penilaian denyut jantung, jika denyut jantung tetap / tidak rewspon terhadap di atas dan tanpa ada hiporolemi beri bikarbonat dengan dosis 2 MEQ/kg BB secara IV selama 2 menit.

4.      CARA MERUJUK

Sistem rujukan Neonatus adalah suatu sistem yang memberikan suatu gambaran tata cara pengiriman Neonatus resiko tinggi dari tempat yang kurang mampu memberikan penanganan ke Rumah Sakit yang dianggap mempunyai fasilitas yang lebih mampu dalam hal penatalaksanaannya secara menyeluruh.

Tujuan sistem rujukan neonatus adalah memberikan pelayanan kesehatan pada neonatus dengan cepat dan tepat, menggunakan fasilitas kesehatan neonatus seefesien mungkin dan mengadakan pembagian tugas pelayanan kesehatan neonatus pada unit-unit kesehatan sesuai dengan lokasi dan kemampuan unit-unit tersebut serta mengurangi angka kesakitan dan kematian bayi.

unit perawatan bayi baru lahir dapat dibagi menjadi :

  • Unit perawatan bayi baru lahir tingkat III :

Merupakan penerima rujukan baru lahir yang lahir dirumah atau pondok bersalin dengan memberi pelayanan dasar pada bayi yang baru lahir di Puskesmas dengan tempat tidur dan rumah bersalin. Kasus rujukan yang dapat dilakukan adalah Bayi kurang bulan, sidroma ganguan pernafasan, kejang, cacat bawaan yang memerlukan tindakan segera, ganguan pengeluaran mekonium disertai kembung dan muntah, Kuning yang timbulnya terlalu awalatau lebih dari dua minggu dan diare. Pada unit ini perlu penguasaan terhadap pertolongan pertama kagawatan bayi baru lahir seperti pengenalan tanda-tanda sindroma ganguan nafas, infeksi atau sepsis, cacat bawaan yang memerlukan dengan segera, masalah ikterus,muntah, pendarahan, barat badan lahir rendah dan diare.

  • Unit perawatan bayi baru lahir tingkat II :

Pada unit ini telah ditempatkan sekurang-kurangnya empat tenaga dokter ahli dimana pelayanan yang diberikan berupa pelayanan kehamilan dan persalinan normal maupun resiko tinggi. Perawatan bayi yang baru lahir pada unit ini meliputi kemampuan pertolongan resusitasi bayi baru lahir dan resusitasi pada kegawatan selama pemasangan pita endotrakeal, terapi oksigen pemberian cairan intravena, tetapi sinar dan tranfusi tukar, penatalaksanaan hipoglikemi, perawatanbayi berat badan lahir rendah dan bayi lahir dengan tindakan. Sarana penunjang berupa laboratorium dan pemeriksaan radiologis yang telah tersedia pada unit init disamping telah dapat dilakukan tindakan bedah segaera pada bayi- bayi oleh karena telah adanya dokter bedah.

  1. Unit perawatan bayi baru lahir tingkat I :

Pada unit ini semua aspek yang menyangkut dengan masalah perinatologi dan neonatologi dapat ditangani disini. Unit ini merupakan pusat rujukan sehingga kasus yang ditangani sebagian besar merupakan kasus resiko tinggi baik dalam kehamilan, persalinan maupun bayi baru lahir.

Alur / Mekanisme Rujukan

  1. Setelah dilakukan resusiatasi, jika belum juga berhasil maka bayi segera di rujuk ke rumah sakit yg memiliki fasilitas lengkap dengan memasang oksigen terlebih dahulu pada bayi asfiksia.
  2. Dampingi keluarga dan bayi tersebut selama proses merujuk.
  3. Tetap jaga kehangatan bayi selama dalam perjalanan merujuk
  4. Beritahu orang tua dan keluarga bayi mengenai keadaan bayinya.
  5. Lakukan imfomed consent.
  6. Lengkapi BAKSOKUDA
  • B ( bidan )

Pastikan ibu/ klien/ bayi didampingi oleh tenaga kesehatan yang komponen dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan kegawat daruratan.

  • A ( alat )

Bawa perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan, seperti spuit, infuse, set, tensimeter, oksigen, dan stetoskop.

  • K ( keluarga )

Beritahu keluarga tentang kondisi terakhir bayi (klien) dan alasan mengapa ia dirujuk. Orang tua bayi dan anggota keluarga lain harus menemani bayi ( klien) ketempat rujukan.

  • S (surat)

Beri surat ke tempat rujukan yang berisi identifikasi bayi (klien), alasan rujukan, uraian hasil rujukan, asuhan atau obat- obatan yang telah diterima oleh bayi (klien).

  • O (obat)

Bawa obat- obat esensial diperlukan selama perjalanan merujuk.

  • K (kendaraan)

Siapkan kendaraan yang cukup baik untuk memungkinkan bayi dalam kondisi yang nyaman dan dapat mencapai tempat rujukan dalam waktu yang cepat.

  • U (uang)

Ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat dan bahan kesehatan yang diperlukan ditempat rujukan.

  • DA (darah)

persiapkan pendonor darah jika sewaktu-waktu diperlukan

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

0

ANEMIA DALAM KEHAMILAN

ANEMIA DALAM KEHAMILAN

A.    PENGERTIAN ANEMIA  DALAM KEHAMILAN

Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11,00 gr% Pada trimester I dan III atau kadar Hb < 10,50 gr% pada trimester II. Karena ada perbedaan dengan kondisi wanita tidak hamil karena hemodilusi terutama terjadi pada trimester II(Sarwono P, 2002).

Anemia pada wanita hamil jika kadar hemoglobin atau darah merahnya kurang dari 10,00 gr%. Penyakit ini disebut anemia berat. Jika hemoglobin < 6,00 gr% disebut anemia gravis. Jumlah hemoglobin wanita hamil adalah 12,00-15,00 gr% dan hematokrit adalah 35,00-45,00% (Mellyna, 2005).

Anemia hamil disebut ” potential danger to matter and child (potensial membahayangkan ibu dan anak) ”, karena itulah anemia memerlukan perhatian khusus dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan pada lini terdepan.

Baik di negara maju maupun di negara berkembang, seseorang disebut menderita anemia bila kadar Hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gr %, disebut anemia berat atau bila kurang dari 6 gr %, disebut anemia gravis.

Wanita tidak hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12 – 15 gr % dan hematokrit 35-54 %, angka – angka tersebut juga berlaku untuk wanita hamil, terutama wanita yang mendapat pengawasan selama hamil. Oleh karena itu, pemeriksaan hematokrit dan hemogloblin harus menjadi pemeriksaan darah rutin selama pengawasan antenatal. Sebaiknya pemerintahan dilakukan setiap 3 bulan atau paling sedikit 1 kali pada pemeriksaan pertama atau pada triwulan pertama dan sekali lagi pada triwulan akhir.

B.  EPIDEMIOLOGI ANEMIA

Berdasarkan data SKRT tahun 1995 dan 2001, anemia pada ibu hamil sempat mengalami penurunan dari 50,9% menjadi 40,1% (Amiruddin, 2007). Angka kejadian anemia di Indonesia semakin tinggi dikarenakan penanganan anemia dilakukan ketika ibu hamil bukan dimulai sebelum kehamilan. Berdasarkan profil kesehatan tahun 2010 didapatkan data bahwa cakupan pelayanan K4 meningkat dari 80,26% (tahun 2007) menjadi 86,04% (tahun 2008), namun cakupan pemberian tablet Fe kepada ibu hamil menurun dari 66,03% (tahun 2007) menjadi 48,14% (Depkes, 2008).

Frekuensi timbulnya anemia dalam  kehamilan tergantung pada suplementasi besi. Taylor dkk melaporkan rata-rata kadar hemoglobin sebesar 12,7 g/dl pada wanita yang mengkonsumsi suplemen besi sementara rata-rata hemoglobin sebesar 11,2 g/dl pada wanita yang tidak mengkonsumsi suplemen.

Karakter Trias Epidemiologi

1)      Host

Faktor host (pejamu) dalam kasus anemia pada ibu hamil adalah ibu hamil yang terdiri dari:

  • Umur

Semakin muda umur ibu hamil, semakin berisiko untuk terjadinya anemia. Hal ini didukung oleh penelitian Adebisi dan Strayhorn (2005) di USA bahwa ibu remaja memiliki prevalensi anemia kehamilan lebih tinggi dibanding ibu berusia 20 sampai 35 tahun. Hal ini dapat dikarenakan pada remaja, Fe dibutuhkan lebih banyak karena pada masa tersebut remaja membutuhkannya untuk pertumbuhan, ditambah lagi jika hamil maka kebutuhan akan Fe lebih besar seperti yang sudah dijelaskan pada riwayat alamiah. Selain itu, faktor usia yang lebih muda dihubungkan dengan pekerjaan, status sosial ekonomi dan pendidikan yang kurang.

  • Kelompok etnik

Berdasarkan penelitian Adebisi dan Strayhorn (2005) di USA bahwa ras kulit hitam memiliki risiko anemia pada kehamilan 2 kali lipat dibanding dengan kulit putih. Hal ini juga dihubungkan dengan status sosial ekonomi

  • Keadaan Fisiologis

Keadaan fisiologis ibu hamil, peningkatan Hb tidak sebanding dengan penambahan volume plasma yang lebih besar, selain itu didukung dengan kebutuhan intake Fe yang lebih banyak untuk eritropoesis.

  • Keadaan imunologis

Keadaan imunologis dari ibu hamil yang dapat menyebabkan anemia dihubungkan dengan proses hemolitik sel darah merah yang nantinya disebut anemia hemolitik. Hal ini juga berhubungan dengan ada maupun tidak adanya penyakit yang mendasari seperti SLE(Systemic Lupus Erythematosus) yang dapat menyebabkan hancurnya sel darah merah.

  • Kebiasaan

Kebiasaan ini meliputi kebiasaan makan pada ibu hamil, apakah intake nutrisinya adekuat atau tidak atau mengandung Fe, asam folat, vitamin B12 ataukah tidak. Selain itu, kebiasaan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya di tempat pelayanan kesehatan juga mempengaruhi besar kecilnya kejadian anemia pada ibu hamil. Menurut penelitian Adebisi dan Strayhorn (2005) di USA, bahwa ibu hamil yang merokok dan minum alkohol juga mempengaruhi terjadinya anemia.

  • Sosial ekonomis

Faktor sosial ekonomi diantaranya adalah kondisi ekonomi, pekerjaan dan pendidikan. Ibu hamil dengan keluarga yang memiliki pendapatan yang rendah akan mempengaruhi kemampuan untuk menyediakan makanan yang adekuat dan pelayanan kesehatan untuk mencegah dan mengatasi kejadian anemia. Ibu hamil yang memiliki pendidikan yang kurang juga akan mempengaruhi kemampuan ibu dalam mendapatkan informasi mengenai anemia pada kehamilan.

  • Faktor kandungan dan kondisi/ riwayat kesehatan

Faktor kandungan diantaranya paritas, riwayat prematur sebelumnya, dan usia kandungan. Ibu dengan riwayat prematur sebelumnya lebih berisiko dibanding dengan ibu yang tidak memiliki riwayat tersebut. Ibu dengan primipara berisiko lebih rendah untuk terjadi anemia daripada ibu dengan multipara (Omoniyi, Stayhorn, 2005). Kondisi atau riwayat kesehatan diantaranya adalah apakah ibu hamil menderita penyakit diabetes, ginjal, hipertensi, dan penyakit kronis lainnya. Ibu hamil mempunyai riwayat penyakit kronis tersebut, semakin berisiko terjadinya anemia pada ibu hamil (Omoniyi, Stayhorn, 2005).

2)      Agen
Agens atau sumber penyakit pada anemia ibu hamil diantaranya yaitu:

  • Unsur gizi

Terjadinya anemia pada ibu hamil juga dapat disebabkan karena defisiensi Fe, asam folat dan vitamin B dalam makanan. Defisiensi ini dapat terjadi karena kebutuhan Fe yang meningkat, kurangnya cadangan dan berkurangnya Fe dalam tubuh ibu hamil.

  • Kimia dari dalam dan luar

Anemia pada ibu hamil juga dapat terjadi karena berhubungan dengan kimia dan obat. Anemia tersebut dinamakan anemia aplastik. Kehamilan mengakibatkan peningkatan sintesa laktogen plasenta, eritropoetin dan estrogen. Laktogen plasenta dan eritropoetin menstimulasi hematopoesis dimana estrogen menekan sumsum tulang. Ketidakseimbangan tersebut menyebabkan hipoplasia (Choudry et al, 2002 dalam Yilmaz et al, 2007).

  • Faktor faali/ fisiologis

Faktor fisiologis ini meliputi peningkatan eritrosit dan Hb tidak sebanyak dengan peningkatan volume plasma pada kehamilan sehingga terjadi hipervolemi. Hal tersebut berisiko terjadinya anemia pada kehamilan.

3)      Lingkungan

Dari ketiga faktor lingkungan (fisik, biologis dan sosial ekonomi) yang dapat mempengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil yaitu faktor sosial ekonomi. Kondisi sosial berupa dukungan dari keluarga dan komunitas akan mempengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil. Jika keluarga mendukung terhadap intake nutrisi yang adekuat pada ibu hamil dan memotivasi dalam memeriksakan kehamilannya secara rutin, maka kemungkinan kecil terjadi anemia.

Jika lingkungan komunitas menyediakan sarana pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan dan kader maka pelayanan kesehatan akan meningkat sehingga kejadian anemia kemungkinan kecil terjadi. Selain itu, pendidikan ibu hamil yang semakin tinggi akan mempengaruhi kemampuan dalam mendapatkan informasi. Kondisi ekonomi akan mempengaruhi kemampuan ibu hamil dan keluarga dalam menyediakan nutrisi yang adekuat dan memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai.

C. PATOGENESA ANEMIA PADA KEHAMILAN

Riwayat alamiah penyakit merupakan gambaran tentang perjalanan perkembangan penyakit pada individu dimulai sejak terjadinya paparan dengan agen penyebab sampai terjadinya kesembuhan atau kematian tanpa terinterupsi oleh suatu intervensi preventif maupun terapeutik (CDC, 2010 dikutip Murti, 2010). Hal ini diawali dengan terjadinya interaksi antara host, agent, dan lingkungan. Perjalanan penyakit dimulai dengan terpaparnya host yang rentan (fase suseptibel) oleh agen penyebab. Sumber penyakit (agens) pada anemia ibu hamil diantaranya dapat berupa unsur gizi dan faktor fisiologis. Pada saat hamil, ibu sebagai penjamu (host).

Dari faktor faal atau fisiologis, kehamilan menyebabkan terjadinya peningkatan volume plasma sekitar 30%, eritrosit meningkat sebesar 18% dan hemoglobin bertambah 19%. Peningkatan tersebut terjadi mulai minggu ke-10 kehamilan. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa bertambahnya volume plasma lebih besar daripada sel darah (hipervolemia) sehingga terjadi pengenceran darah. Hemoglobin menurun pada pertengahan kehamilan dan meningkat kembali pada akhir kehamilan.

Namun, pada trimester 3 zat besi dibutuhkan janin untuk pertumbuhan dan perkembangan janin serta persediaan setelah lahir. Hal inilah yang menyebabkan ibu hamil lebih mudah terpapar oleh agen sehingga berisiko terjadinya anemia. Sedangkan, dari unsur gizi ibu hamil dihubungkan dengan kebutuhan akan zat besi (Fe), asam folat, dan vitamin B12. Keluhan mual muntah pada ibu hamil trimester 1 dapat mengurangi ketersediaan zat besi pada tubuh ibu hamil. Dan kebutuhan zat besi pada ibu hamil trimester 3 untuk pertumbuhan dan perkembangan janin juga membuat kebutuhan zat besi pada ibu hamil semakin besar. Padahal, zat besi dibutuhkan untuk meningkatkan sintesis hemoglobin.

Jika fase suseptibel di atas tidak tertangani, maka akan terjadi proses induksi menuju fase subklinis (masa laten) dan kemudian fase klinis dimana mulai muncul tanda dan gejala anemia seperti cepat lelah, sering pusing, malaise, anoreksia, nausea dan vomiting yang lebih hebat, kelemahan, palpitasi, pucat pada kulit dan mukosa, takikardi dan bahkan hipotensi. Selama tahap klinis, manifestasi klinis akan menjadi hasil akhir apakah mengalami kesembuhan, kecacatan, atau kematian (Rohtman, 2002 dalam Murti,2010). Misalnya jika terjadi pada trimester I akan mengakibatkan abortus dan kelainan kongenital, pada trimester II dapat mengakibatkan persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin, asfiksia, BBLR, mudah terkena infeksi dan bahkan kematian. Sedangkan pada trimester III akan menimbulkan gangguan his, janin lahir dengan anemia, persalinan tidak spontan .

Periode Prepathogenesis dan Pathogenesis

Tahap prepathogenesis adalah tahap sebelum terjadinya penyakit. Sehingga, tahap ini terdiri dari fase suseptibel dan subklinis (asimtomatis). Pada tahap ini, secara patofisiologis anemia terjadi pada kehamilan karena terjadi perubahan hematologi atau sirkulasi yang meningkat terhadap plasenta. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya volume plasma tetapi tidak sebanding dengan penambahan sel darah dan hemoglobin. Selain itu, dapat disebabkan kebutuhan zat besi yang meningkat serta kurangnya cadangan zat besi dan intake zat besi dalam makanan. Zat besi diperlukan untuk eritropoesis (Atmarita, 2004 dalam Amiruddin et al, 2007).

Jika total zat besi dalam tubuh menurun akibat cadangan dan intake zat besi yang menurun, maka akan terjadi penurunan zat besi pada hepatosit dan makrofag hati, limpa dan sumsum tulang belakang. Setelah cadangan habis, akan terjadi penurunan kadar Fe dalam plasma padahal suplai Fe pada sumsum tulang untuk pembentukan hemoglobin menurun. Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan eritrosit tetapi mikrositik sehingga terjadi penurunan kadar hemoglobin (Choudry et al, 2002 dalam Yilmaz et al, 2007). Anemia pada kehamilan tersebut dinamakan anemia defisiensi besi. Klasifikasi anemia dalam kehamilan lainnya diantaranya adalah anemia megaloblastik, anemia hipoplastik dan anemia hemolitik.

Anemia megaloblastik termasuk dalam anemia makrositik dimana anemia terjadi karena kekurangan asam folat dan atau vitamin B12. Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan karena penghancuran eritrosit yang lebih cepat dari pembuatannya akibat kehilangan darah akut/ kronis (Basu, 2010).

Jika sebab-sebab di atas terjadi pada ibu hamil secara beriringan maka akan menimbulkan manifestasi klinis anemia. Pada saat tanda dan gejala tersebut muncul, tahap inilah yang disebut dengan tahap awal pathogenesis. Tahap ini berakhir sampai fase kesembuhan, kecacatan atau kematian.

Kemudian tahap patogenesis berakhir pada kesembuhan, kecacatan dan bahkan kematian. Jika timbul kesakitan atau kecacatan dapat berdampak pada kehamilannya, janinnya, persalinannya dan bayi nantinya.

Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi yang makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada trimester ke II kehamilan,dan maksimum terjadi pada bulan ke 9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurunsedikit menjelang aterem serta kembali normal 3 bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron.

D. PENCEGAHAN DAN PERAN PERAWAT DALAM PENCEGAHAN

Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbangdengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapatdiperoleh dengan cara mengonsumsi daging (terutama daging merah) seperti sapi. Zat besi juga dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong, serta kacang-kacangan. Perlu diperhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian suplemen Fe dosisrendah 30 mg pada trimester ketiga ibu hamil non anemik (Hb lebih/=11g/dl),sedangkan untuk ibu hamil dengan anemia defisiensi besi dapat diberikan suplemenFe sulfat 325 mg 60-65 mg, 1-2 kali sehari. Untuk yang disebabkan oleh defisiensiasam folat dapat diberikan asam folat 1 mg/hari atau untuk dosis pencegahan dapatdiberikan 0,4 mg/hari. Dan bisa juga diberi vitamin B12 100-200 mcg/hari

Peran bidan dapat masuk dalam tahap pencegahan. Dimana tahap pencegahan tediri dari tiga(3) yaitu :

  • Pencegahan Primer

Pencegahan primer dilakukan pada fase prepathogenesis yaitu pada tahap suseptibel dan induksi penyakit sebelum dimulainya perubahan patologis. Tujuan pencegahan ini untuk mencegah atau menunda terjadinya kasus baru penyakit dan memodifikasi faktor risiko atau mencegah berkembangnya faktor risiko (AHA Task Force, 1998 dalam Murti 2010).

Pada pencegahan dalam anemia ibu hamil ini, bidan komunitas dapat berperan sebagai edukator seperti memberikan nutrition education berupa asupan bahan makanan yang tinggi Fe dan konsumsi tablet besi atau tablet tambah darah selama 90 hari. Edukasi tidak hanya diberikan pada saat ibu hamil, tetapi ketika belum hamil. Penanggulangannya, dimulai jauh sebelum peristiwa melahirkan (Junadi, 2007). Selain itu, bidan juga dapat berperan sebagai konselor atau sebagai sumber berkonsultasi bagi ibu hamil mengenai cara mencegah anemia pada kehamilan.

Selain itu, sebagai fasilitator bidan dapat mengaktifkan kader dan posyandu balita atau pembentukan posyandu (jika belum ada) sebagai tenaga, sarana dan tempat dalam mempromosikan kesehatan. Bidan juga dapat menjadi motivator bagi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin di tempat pelayanan kesehatan terdekat dan memotivasi keluarga ibu hamil untuk selalu mendukung perawatan yang dilakukan pada ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia.

  • Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder merupakan pencegahan yang dilakukan pada tahap pathogenesis yaitu mulai pada fase asimtomatis sampai fase klinis atau timbulnya gejala penyakit atau gangguan kesehatan. Pada pencegahan sekunder, yang dapat dilakukan oleh bidan komunitas diantaranya adalah sebagai care giver diantaranya melakukan skirinning (early detection) seperti pemeriksaan hemoglobin (Hb) untuk mendeteksi apakah ibu hamil anemia atau tidak, jika anemia, apakah ibu hamil masuk dalam anemia ringan, sedang, atau berat. Selain itu, juga dilakukan pemeriksaan terhadap tanda dan gejala yang mendukung seperti tekanan darah, nadi dan melakukan anamnesa berkaitan dengan hal tersebut. Sehingga, bidan dapat memberikan tindakan yang sesuai dengan hasil tersebut.

Dalam hal ini, bidan dapat berperan juga sebagai penemu kasus, peneliti, konselor, edukator, motivator, fasilitator dan kolaborator. Sebagai penemu kasus dan peneliti, bidan dapat menggambarkan dan melaporkan kejadian anemia pada ibu hamil di suatu daerah, sehingga datanya bermanfaat untuk dinas terkait dalam rangka penanganan terhadap kejadian anemia tersebut. Jika ibu hamil terkena anemia, maka bidan sebagai care giver dan kolaborator dapat memberikan terapi oral berupa Fe dan memberikan rujukan kepada ibu hamil ke rumah sakit untuk diberikan transfusi (jika anemia berat).

Bidan dapat memberikan pengarahan dan motivasi kepada ibu hamil dan keluarganya supaya tidak berlanjut pada komplikasi yang tidak diinginkan pada ibu dan janin. Bidan juga dapat memotivasi kader untuk dapat membantu mendeteksi adanya anemia pada ibu hamil di wilayahnya.

  • Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier dilakukan untuk mencegah perkembangan penyakit ke arah yang lebih buruk untuk memperbaiki kualitas hidup klien seperti untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kerusakan jaringan, keparahan dan komplikasi penyakit, mencegah serangan ulang dan memperpanjang hidup.

Contoh pencegahan tersier pada anemia ibu hamil diantaranya yaitu mempertahankan kadar hemoglobin tetap dalam batas normal, memeriksa ulang secara teratur kadar hemoglobin, mengeliminasi faktor risiko seperti intake nutrisi yang tidak adekuat pada ibu hamil, tetap mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan dan tetap mengkonsumsi makanan yang adekuat setelah persalinan. Dalam hal ini, bidan dapat berperan sebagai care giver, edukator, konselor, motivator, kolaborator, dan fasilitator.

E.     GEJALA ANEMIA DALAM KEHAMILAN

  • Ibu mengeluh cepat lelah, Sering pusing, Mata berkunang-kunang,
  • Nafsu makan turun (anoreksia), mual, muntah
  • Konsentrasi hilang,
  • Nafas pendek (pada anemia parah)
  • Keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.
  • Keletihan,  malaise, atau mudah megantuk
  •  Pusing atau kelemahan
  •  Sakit kepala
  • Lesi pada mulut dan lidah
  • Kulit pucat
  • Mukosa membrane atau kunjung tiva pucat
  • Dasar kuku pucat
  • Takikardi
  • perubahan jaringan epitel kuku, gangguan sistem neurumuskular
  • disphagia dan pembesaran kelenjar limpa.

 F.     ETIOLOGI ANEMIA DALAM KEHAMILAN

Penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut :

  • Kurang gizi (malnutrisi) seperti zat besi, asam folat, dan B12
  • Kemampuan perombakan sel darah merah yang terlalu cepat
  • Malabsorpsi
  • Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain
  • Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria,

G.      DIAGNOSA ANEMIA KEHAMILAN

Penegakan DX pada kehamilan dapat dilakukan dengan anamnesa, pada anamnesa akan didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing–pusing, mata berkunang –kunang, dan muntah lebih sering dan hebat pada kehamilan muda.

Pada pemeriksaan umum didapatkan tekanan daran ibu rendah jumlah plasma darah lebih banyak dari eritrosit sehingga darah ibu lebih encer. Nadi ibu cepat karena kerja jantung lebih meningkat untuk membawa makanan dan oksigen keseluruh tubuh serta transportasi ke dalam rahim

Pada pemeriksaan inspeksi, diperoleh data kalau konjungtiva ibu pucat, telapak tangan pucat, bagian pinggir bibir pucat, karena darah ibu tidak mencukupi sampai kebagia-bagian ujung tubuh ibu. Ibu juga terlihat lemah, letih, lesu, karena kurangnya nutrisi untuk beraktivitas.

Sedangkan pemeriksaan HB dan pengawasan HB dapat dilakukan secara sederhana dengan menggunakan alat Hb sahli. Hasil pemeriksaan HB dengan dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut :

  • HB 11 gr % Tidak anemia
  • 9 – 10 gr % Anemia ringan
  • 7 – 8 gr % Anemia sedang
  • < 7 gr % Anemia berat

H.      JENIS-JENIS ANEMIA

Banyak faktor – faktor yang mempengaruhi pembentukan darah adalah sebagai berikut :

  1. komponen (bahan) yang berasal dari makanan
  • Protein, glukosa, lemak
  • Vitamin B12, asam falat, Vit C
  • Elemen dasar : Fe, Ion Cu, Zink
  1. Sum-sum tulang
  2. Kemampuan reabsorpsi usus terhadap bahan yang diperlukan
  3. Umur sel darah merah (eritrosit) terbatas sekitar 120 hari. Sel – sel darah merah yang sudah tua dihancurkan kembali menjadi bahan baku untuk membentuk sel darah yang baru.
  4. Terjadinya perdarahan yang kronik (menahun)
  • Menstruasi
  • Penyakit yang menyebabkan perdarahan pada wanita seperti mioma uteri,
    Polip Serviks, penyakit darah.

Berdasarkan atas faktor – faktor diatas maka anemia dapat digolongkan menjadi :

1. Anemia Zat Besi (kejadian 62,30%)

Anemia dalam kehamilan yang paling sering ialah anemia akibat kekurangan zat besi. Kekurangan ini disebabkan karena kurang masuknya unsur zat besi dalam makanan, gangguan reabsorbsi, dan penggunaan terlalu banyaknya zat besi.

Morfologi terdiri dari SDM hipokrom mikrositik. Zat besi serum menurun dan kapasitas pengikat zat besi meningkat. Merupakan anemia yang paling sering dijumpai pada kehamilan. Hal ini disebabkan oleh kurang masuknya unsur besi dalam makanan, karena gangguan resorpsi, ganguan penggunaan atau karena terlampaui banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan. Keperluan besi bertambah dalam kehamilan terutama pada trimester terakhir. Keperluan zat besi untuk wanita hamil 17 mg

2. Anemia Megaloblastik (kejadian 29,00%)

Anemia megaloblastik adalah penyakit yang ditandai dengan penurunan jumlah SDM (sel darah merah) dan hipokrom makrositik Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folat. Umumnya terkait dengan anemia defisiensi zat besi. Jarang dijumpai kasus anemia megaloblastik saja

3. Anemia Hipoplastik (kejadian 80,00%)

Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah merah. Dimana etiologinya belum diketahui dengan pasti kecuali sepsis, sinar rontgen, racun dan obat-obatan.

4. Anemia Hemolitik (kejadian 0,70%)

Anemia yang disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat, yaitu penyakit malaria.

Suatu defek enzimatik yang terkait-kromosom X dan diturunkan, yang ditandai dengan ketidak mampuan tubuh memproduksi enzim G6PD, yaitu enzim yang berfungsi sebagai katalis penggunaan glukosa secara aerob oleh SDM. Anemia ini dapat ditemukan pada keturunan Afrika-Amerika, Asia, dan Mediterania. Kejadiannya Dua persen dari semua  wanita keturunan Afrika-Amerika menderita penyakit ini.

penyebabnya Infeksi dan beberapa obat oksidik pada kondisi defisiensi G6PD akan memicu hemolisis SDM yang megakibatkan anemia hemolitik ringan sampai berat.

5. Anemia Pernisiosa

Anemia pernisiosa disebabkan kekurangan faktor intrinsik pada asam lambung, yang diperlukan untuk absorbsi vitamin B12 dari makanan . karena B12 tidak dapat diabsorbsi, SDM tidak matang dengan normal.  Kasus ini jarang dijumpai pada individu dibawah usia 35 tahun.

6. Anemia Sel Sabit

Pada sifat (trait) sel sabit, ada satu gen normal dan satu gen Hb-S. gejala tidak tampak kecuali pada keadaan deprivasi oksigen berat. Pada penyakit sel sabit, kedua gen adalah Hb-S. penyakit ini kronik dan melemahkan. Angka morbiditas dan mortalitas penyakit ini tinggi. Kejadiannya Satu dari 12 keturunan Afrika-Amerika membawa sifat sel sabit. Satu dari 500 keturuna Afrika-Amerika menderita penyakit ini.

I.         PENGARUH ANEMIA PADA KEHAMILAN DAN JANIN.

a. Bahaya selama kehamilan

  • Persalinan Prematur
  • Mudah terjadinya Infeksi
  • Ancaman Dekompensasi Cordis (jika HB < 6 gr)
  • Hiperemesis Gravidarum
  • Perdarahan Antepartum
  • KPD ( Ketuban Pecah Dini )

b. Bahaya saat persalinan

  • Gangguan his kekuatan mengejan
  • Pada kala I dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar
  • Pada kala II berlangsung lama sehingga dapat melelahkan
    dan sering memerlukan tindakan dan operasi kebidanan.
  • Pada kala III (Uri) dapat diikuti Retencio Placenta, PPH
    karena Atonnia Uteri
  • Pada kala IV dapat terjadi pendarahan Post Partum Sekunder
    dan Atonia Uteri

c. Bahaya pada saat Nifas

  • Terjadi Subinvolusi Uteri yang dapat menimbulkan perdarahan
  • Memudahkan infeksi Puerpurium
  • Berkurangnya pengeluaran ASI
  • Dapat terjadi DC mendadak setelah bersalin
  • Memudahkan terjadi Infeksi mamae

d. Pengaruh Anemia Terhadap Janin

Meskipun janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari Ibunya tetapi jika anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Pengaruh – pengaruhnya terhadap janin diantaranya :

  • Abortus
  • Kematian Interauterin
  • Persalinan Prematuritas tinggi
  • BBLR
  • Kelahiran dengan anemia
  • Terjadi cacat kongenital
  • Bayi mudah terjadi Infeksi sampai pada kematian
  • Intelegensi yang rendah
  • Kekuranganenergi dalam asupan makanan yang dikonsumsi menyebabkan tidak tercapainya penambahan berat badan ideal dari ibu hamil yaitu sekitar 11 – 14kg. Kekurangan itu akan diambil dari persediaan protein yang dipecah menjadienergi
  1. J.      KEBUTUHAN ZAT BESI PADA WANITA HAMIL

Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari pada laki – laki karena terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak kurang lebih 50 cc – 80 cc setiap bulan pada wanita dan kehamilan, zat besi yang berkurang sebesar 30 – 40 mg. Pada saat kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk menambahkan sel darah merah dan membentuk sel darah merah pada janin dan placenta. Semakin sering wanita hamil dan melahirkan maka akan semakin banyak wanita itu kehilangan zat besi dan menjadi semakin anemis.
Gambaran banyaknya kebutuhan zat besi setiap kehamilan :

  • Meningkatkan sel darah Ibu 500 mg Fe
  • Terdapat dalam placenta 300 mg Fe
  • Untuk darah janin 100 mg Fe + Jumlah 900 mg Fe

Jika persediaan Fe minimal, maka disetiap kehamilan akan menguras Fe dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Pada setiap kehamilan relatif mengalami anemia dikarenakan darah Ibu mengalami Hemodilusi (pengenceran) dan meningkatkan volume 38 % – 40 % yang puncaknya pada kehamilan 32 – 34 minggu. Jumlah pertambahan sel darah 18 % – 30 % dan HB sekitar 19 %. Bila HB sebelum hamil sekitar 11 gr maka dengan terjadinya Hemodilusi akan mengakibatkan anemia fisiologi, dan HB Ibu akan turun menjadi kurang lebih 9,5 – 10 gr %.

Setelah persalinan dengan lahirnya Bayi dan placenta maka akan kehilangan zat besi kurang lebih 900 mg dari perdarahan yang dialami Ibu saat persalinan. Saat laktasi Ibu memerlukan kesehatan jasmani yang optimal sehingga dapat menyiapkan ASI unntuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dalam keadaan anemia laktasi tidak dapat terlaksana dengan baik maka dari itu sbisa mungkin ibu tidak anemis.

K.    PENGOBATAN ANEMIA

a. Anemiadefisiensi Zat Besi

Penatalaksaan :

1. Skrining rutin

  • Pada kunjungan awal, tanyakan tentang riwayat anemia atau masalah pembekuan darah sebelumnya.
  • Minta hitung darah lengkap pada kunjungaan awal.
  • Diskusikan pentingnya mengonsumsi vitamin prenatal (disertai zat besi).
  • Periksa ulang Ht pada 28 minggu kehamilan.

2. Terapi anemia:

  • Terapi oral ialah dengan pemberian : fero sulfat, fero gluconat, atau Na-fero bisitrat.
  • Bila Hb <10 g/dl dan Ht <30%, lakukan tindakan berikut:

3. Berikan konseling gizi.

  • Tinjau diet pasien.
  • Diskusikan sumber-sumber zat besi dalam diet.
  • Berikan kepada pasien selebaran mengenai makanan tinggi zat besi.
  • Rujuk ke ahli gizi.

4.  Sarankan suplemen zat besi sebagai tambahan vitamin paranatal. Kebutuhan zat besi saat kehamilan adalah 60 mg unsure zat besi.

  • Tablet zat besi time-release merupaka pilihan terbaik, namun lebih mahal. Setiap sediaan garam zat besi standar sudah mencukupi kebutuhan zat besi.
  • Minum 1-3 tablet per hari dalam dosis yang terbagi.
  • Zat besi diabsorbsi lebih baik pada keadaan lambung kosong. Minum 1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudahnya.
  • Vitamin C membantu absorbs zat besi. Minum zat besi disertai jus yang tinggi vitamin C atau tablet vitamin C.
  • Antasid dan produk susu dapat mengganggu absorbs zat bes
  • Lebih baik mengkonsumsi zat besi bersama antasid atau makanan daripada tidak mengkonsumsi sama sekali.

5.  Bila Hb <9 g/dl dan Ht <27% pertimbangkan anemia megaloblastik. Kelola pasien ini menurut panduan terapi anemia.

  • Bila kadar Hb <9 g/dl dan Ht ≤27% saat mulai persalinan, pertimbangkan pemberian cairan IV atau heparin lock saat persalinan.
  • Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 g%/bulan. Efek samping pada traktus gastrointestinal relatif kecil pada pemberian preparat Na-fero bisitrat dibandingkan dengan ferosulfat.
  • Kini program nasional mengajukan kombinasi 60 mg besi dan 50µg asam folat untuk profilaksis anemia.
  • Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan Hb relatif lebih cepat yaitu 2 g%. Pemberian parenteral ini mempunyai indikasi : intoleransi besi pada gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk. Efek samping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 cc/im dan bila tak ada reaksi, dapat diberikan seluruh dosis.

b. Anemia Megaloblastik.

Penatalaksanaan

1. Suplemen

  • Vitamin prenatal yang mengandung asam folat dan zat besi
  • Satu sampai dua milligram asam folat per hari untuk memperbaiki defisiens asam folat.
  • Suplemen zat besi, dengan pertimbangan bahwa anemia megaloblastik jarang terjadi tanpa anemia defisiensi zat besi.

2. Konseling gizi

  • Kaji diet pasien
  • Rekomendasikan sumber-sumber asam folat dalam diet
  • Rujuk ke ahli gizi

3. Hitung darah lengkap

  • Ulangi hitung darah lengkap dalam 1 bulan.
  • Perhatikan adanya peningkatan hitung retikulosit sebesar 3-4% dalam 2-3 minggu, dan sedikit peningkatan pada hitung Hb dan Ht.

c. Anemia hemolitik didapat (acquired hemolytic anemia)

Penatalaksanaan

1.  Skrining: Pasien keturunan Afrika-Amerika yang mengalami anemia atau kerap mengalami infeksi saluran kemih (ISK) berulang harus menjalani skrining G6PD.

2. Terapi

  • Resepkan 1 mg asam folat setiap hari.
  • Berikan daftar obat-obatan yang perlu dihindari.
  • Bila pasien hamil, lakukan kultur dan sensitivitas (culture and sensitivity, C&S) urine bulanan.
  • Konsultasikan dengan dokter bila pasien dalam keadaan krisis atau mengalami anemia berat.

d. Anemia: Pernisiosa

Penatalaksanaan

1. Kaji diet pasien terhadap produk hewani. Bila asupan dietnya kurang sumber-sumber vitamin B12 berikan konseling gizi.

2. Berikan 1 cc (1000 ng) vitamin B12 parenteral per IM setiap bulan.

3. Tawarkan rujukan ke ahli gizi.

4. Ulangi hitung sel darah lengkap dalam 1 bulan.

  • Kondisinya membaik bila
    • Morfologi normal
    • Kadar Ht meningkat
    • Bila tidak ada perubahan, konsultasikan ke dokter.

    e. Anemia Sel Sabit

Penatalaksanaan

1. Programkan skrining sel sabit pada semua pasien Afrika-Amerika:

  • Bila uji negatif, kedua gen normal dan tidak ada masalah.
  • Bila uji positif, minta pemeriksaan elektroforesis hemoglobin.
  • Bila gen homozigot,pasien dianggap beresiko tinggi dan harus dirujuk ke dokter.
  • Bila gen heterozigot, pasien dianggap beresiko rendah dapat dikelola secara normal selama kehamilan dan persalinan.

2. Pertimbangkan kultur dan sensitivitas urine bulanan karena peningkatan resiko ISK selama kehamilan.

3. Beri konseling kepada pasien:

  • Jelaskan kepada pasien mengenai sifat sel sabit yang dibawanya.
  • Sarankan pemeriksaan ayah bayi. Bila gen ayah juga heterozigot, ada kemungkinan bayinya menderita penyakit ini.
  • Rujuk pasien untuk konseling genetik bila perlu.

MANAJEMENT ASUHAN KEBIDANAN VARNEY

Langkah I : Pengkajian

A. Data Subjektif

1. Biodata atau identitas klien pasien

Yang perlu dikaji   :    nama, umur, agama, suku, pendidikan, pekerjaan, dan alamat. Hal ini diperlukan untuk mengenal pasien dan membedakan antara satu pasien dengan pasien lain.

2. Keluhan utama

  • Ibu mengeluh cepat lelah karena kebutuhan nutrisi ibu untuk melakukan aktifitas tidak mencukupi
  • Sering pusing, konsentrasi hilang, mata berkunang-kunang, malaise disebabkan karena kerja jantung yang meningkat untuk memompa darah keotak karna otak kekurangan oksigen
  • Nafsu makan turun (anoreksia) karena ibu kekurangan asam folat sehingga menyebabkan ibu penurunan nafsu makan
  • Nafas pendek (pada anemia parah)
  • Keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda

3. Riwayat Pernikahan

Kehamilan muda    :    Usia dapat mempengaruhi kebutuhan makanan pada wanita, seseorang yang masih berada di usia yang muda akan membutuhkan makanan bergizi untuk pertumbuhannya sendiri. Apalagi jika di iringi dengan kehamilan, kebutuhan makanan bergizi akan semakin meningkat, untuk memenuhi kebutuhan ibu dan kebutuhan janin.

4. Riwayat Menstruasi

Yang dinyatakan adalah HPHT untuk menentukan tafsiran persalinan, siklus, banyak, bau, warna, dan apakah nyeri waktu haid, serta kapan mendapat haid pertama kali.

Banyak darah haid ibu saat menstruasi       :    karena apabila ibu selalu mengalami pengeluaran yang banyak saat menstruasi, kemungkinan ibu akan mengalami anemia jika konsumsi makanan yang bergizi ibu kurang.

Siklus menstruasi        :    Apabila siklus menstruasi ibu tidak lancar, berkemungkinan kebutuhan nutrisi ibu kurang terpenuhi, karena salah satu yang mempengaruhi lancarnya menstruasi adalah pemenuhan gizi

5. Riwayat obstetric yang lalu

Kehamilan yang lalu, kemungkinan ibu pernah mengalami tanda-tanda dari anemia dan mengeluhkan hal yang sama pada kehamilan sekarang.

Kehamilan yang lalu, jika ibu mengalami persalianan preterm, berat badan bayi lahir rendah, bayi lahir dengan cacat congenital. Hal tersebut terjadi karena kekurangan nutrisi diantaranya zat besi dan asam folat, jika kekurangan asam folat bayi akan mengalami gangguan pertumbuhan saat masa gestasi.

6. Riwayat kehamilan sekarang

Kemungkinan ibu merasakan pusing, cepat lelah, lemah, lesu, dan mata berkunag-kunang, hal tersebut terjadi karena untuk melakukan aktifitas ibu tidak memiliki tenaga karena hb ibu rendah dan kemampuan darah ibu untuk mengankut makanan tidak mencukupi

7. Riwayat Kesehatan

Berkemungkinan ibu pernah mengalami penyakit gangguan darah, dan pernah melakukan haemodialisa, karna tindakan HD akan menigkatkan pengkonsumsian asam folat

Berkemungkinan ibu sedang menderita malaria, karena penderita yang mengalami malaria akan mengakibatkan perdarahan

8. Riwayat kontrasepsi

Penggunaan KB pil dapat menebabkan kekurangan asam folat, karena pil KB mengurangi penyerapan asam folat

9. Riwayat social, ekonomi, dan budaya,

Jika ekonomi ibu tidak memadai akan mempengaruhi terhadap pemenuhan nutrisi

Social budaya yang melarang wanita hamil untuk mengkonsumsi makanan seperti ikan dan telur selama masa kehamilan. Serta social budaya yang beranggapan wanita hamil beristirahat adalah tindakan negative

10. Riwayat psikologi

Pada ibu yang mengalami gangguan psikologi kebanyakan tidak memperdulikan kehamilannya sehingga pemenuhan nutrisi tidak dicukupi

11. Kebutuhan dasar

Pemenuhan nutrisi yang tidak mencukupi sangat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam rahim ibu, jika pada trimester I ibu kekurangan nutrisi janin akan mengalami gangguan congenital, sedangkan pada trimester III ibu akan mengalami pretererm dan janin akan mengalami BBLR

Aktifitas sehari-hari ibu yang selalu dan sering yang melakukan kerja berat akan meningkatkan kebutuhan nutrisi saat hamil

B. DATA OBJEKTIF

  1. Pemeriksaan umum

Saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, tekanan darah rendah, nadi cepat, suhu normal, pernafasan normal. Hal ini terjadi karena ibu yang lelah, letih, lesu karena kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi, sehingga kemampuan jantung memompa darah semakin kuat untuk pemenuhan kebutuhan oksigen ke seluruh tubuh.

1. Pemeriksaan khusus

a.Inspeksi

Di dapatkan hasil ibu telihat pucat, konjungtiva pucat, dan ibu terlihat lemah, letih.

Kemungkinan perbesaran perut tidak sesuai dengan usia kehamilan, karena tafsiran berat badan janin rendah.

b. Palpasi

Leopold I : tinggi fundus tidak sesuai dengan usia kehamilan.

c.Auskultasi

DJJ tidak teratur karena kebutuhan oksigen ke janin tidak terpenuhi sehingga menyebabkan janin asfiksia.

d. Pemeriksaan tafsiran berat badan janin

TBBJ tidak sasuai dengan usia kehamilan ibu, karena pertumbuhan janin terganggu akibat nutrisi ibu yang kurang.

e. Pemeriksaan penunjang

  • Laboraturium

Darah : HB didapatkan Pada trimester I < 11,0 gr%, pada trimester II < 10,5 gr%, trimester III < 11,0 gr%.

Hematokrit : pada trimester I  <33%, trimester II < 32%, trimester III < 33%.

  • USG

Didapatkan hasil ukuran janin kecil dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.

 

 

 

Langkah II : Interpretasi Data

Data dasar yang diinterprestasikan menjadi masalah atau diaknosa spesifik yang sudah diidentifikasikan. Di dalam interprestasi data, terdapat tiga komponen penting didalamnya yaitu :

1. Diagnosa

Ibu hamil G..P..A..H usia kehamilan……… janin hidup, tunggal, intrauterine, letkep, jalan lahir normal, ku ibu dan janin baik

Diagnose ditegakkan pada ibu melalui dasar :

Anamnesa

  • Ibu mengatakan ini kehamilan ke berapa
  • Ibu mengatakan pernah menjalani persalinan atau tidak
  • Ibu pernah mengalami keguguran atau tidak
  • Ibu mengatakan jumlah anak yang hidup
  • HPHT
  • Kapan ibu merasakan pergerakan janin pertama kali

Pemeriksaan fisik

  • TTV : TD, P, N, S
  • Inspeksi
    • Terdapat chlosma gravidarum
    • Terdapat hiperpigmentasi areola
    • Terjadi perbesaran kelenjar sebasea
    • Perbesaran perut sesuai dengan usia kehamilan
    • Terdapat linea nigra atau linea alba
    • Terdapat strie gravidarum
    • Palpasi
      • Pemeriksa merasakan pergerakan janin
      • Melakukan pemeriksaan leopold I, II, III, IV
      • Pasien tidak merasakan nyeri saat dilakukan pemeriksaan abdomen
      • Auskultasi
        • Dengan mendengarkan DJJ
        • Pengukuran ukuran panggul
          • Lakukan pengukuran distansia spinarum
          • Lakukan pengukuran distansia cristarum
          • Lakukan pengukuran conjugata eksternal
          • Lakukan pengukuran lingkar panggul

2. Masalah

i.      Ibu mengalami anemia

Dasar :

  • Pemeriksaan penunjang
    • anemia ringan hB 9 – 10 gr %
    • 7 – 8 gr % Anemia sedang
    • < 7 gr % Anemia berat.

ii.      Gangguan aktivitas

Dasar

  • Ibu merasakan kram pada kaki
  • Ibu mengatakan cepat lelah

iii.    Gangguan rasa nyaman

Dasar

  • Ibu merasa cemas menjelang persalinan
  • Ibu mengatakan cepat lelah
  • Ibu mengatakan kurang istirahat

iv. Gangguan pemenuhan nutrisi

  • Ibu terlihat pucat
  • Ibu mengatakan tidak nafsu makan
  • Ibu tampak lemas

v. Kebutuhan

  • Penyuluhan tentang senam hamil dan latihan relaksasi.
  • Penyuluhan tentang kebutuhan gizi ibu hamil
  • Penyuluhan tentang persiapan persalinan.
  • Penyuluhan tentang pentingnya istirahat yang cukup saat hamil
  • Berikan terapi
    • Tablet Fe : 2 x 1 tablet/ hari
    • Kalsium laktat : 3 x 1 tablet/hari
    • Vitamin B kompleks: 3 x 1 tablet/hari
    • Vitamin C : 3 x 1 hari
    • Anjurkan pada ibu cara mengkonsumsi zat besi

C. Identifikasi Diagnosa Dan Masalah Potensial

Potensial terjadi persalinan lama, terjadi infeksi, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD), terjadi sub involusi uteri yang menimbulkan perdarahan antepartum, pengeluaran ASI kurang

D. Tindakakn segera

Tindakan segera pada ibu hamil dengan anemia dibutuhkan jika anemia tersebut disebabkan oleh perdarahan mendadak dan membutuhkan kolaborasi dengan dokter.

E. Perencanaan

1)      Jelaskan pada ibu kondisinya saat ini

  • Ajarkan pada ibu cara menjaga kondisinya selama hamil

2)      Jelaskan pada ibu pentingnya breast care dan senam hamil

  • Ajarkan bagaimana cara breast care dan senam hamil
  • Evaluasi cara ibu melakukan breast care dan senam hamil
  • Libatkan keluarga untuk mengingatkan ibu untuk melakukan breast care dan senam hamil

3)      Jelaskan pada ibu tentang kebutuhan gizi ibu hamil

  • Anjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang
  • Anjurkan pada ibu untuk makan sedikit tapi sering
  • Libatkan keluarga agar membantu ibu untuk mengkonsumsi makanan gizi seimbang

4)       Anjurkan pada ibu untuk istirahat yang cukup dan mengurangi aktifitas yang berlebihan dan berat

5)      Berikan informasi tentang tanda-tanda bahaya kehamilan

6)      Berikan informasi tentang persiapan persalinan dan tanda-tanda persalinan

7)      Anjurkan pada ibu untuk melakukan kunjungan ulang segera jika ada keluhan

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, I.B.G. Pengantar Kuliah Obstetri.EGC.Jakarta:2007

Prawiroharjo,Sarwono. Imu Kebidanan.PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.Jakarta,2009

J. Lenevo,Kenneth. Obstetri Williams. EGC. Jakarta,2009

 

0

SAP (satuan acara penyuluhan) tentang hipertensi

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok bahasan             : kebutuhan dasar pada masyarakat umum

Sub pokok bahasan    : hipertensi

Sasaran                           : lansia

Hari/Tanggal                : kamis/30 mei 2012

Waktu                             : 08.00 – selesai

Tempat                        : puskesmas air dingin

Penyuluh                    : mahasiswa tingkat II STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

A.    Latar belakangSeorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. Lanjut usia adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari dari usia manusia sebagai makhluk hidup yang terbatas oleh suatu putaran alam dengan batas usia 55 tahun / lebih.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah yang sering terdapat pada usia pertengahan atau lebih, yang ditandai dengan tekanan darah lebih dari normal. Hipertensi menyebabkan perubahan pada pembuluh darah yang mengakibatkan makin meningkatnya tekanan darah.

Dari banyak penelitian epidemiologi didapatkan bahwa dengan meningkatnya umur hipertensi menjadi masalah pada lansia karena sering ditemukan pada lansia. Pada lansia hipertensi menjadi faktor utama payah jantung dan penyakit jantung koroner. Lebih dari separuh kematian di atas usia 60 tahun disebabkan oleh penyakit jantung dan serebrovaskular. Secara nyata kematian akibat stroke dan morbiditas penyakit kardiovaskuler menurun dengan pengobatan hipertensi

B.     Tujuan

  • Tujuan umum

Setelah dilakukan pendidikan penyuluhan tentang hipertensi,di harapkan  memahami

tentang penyakit hipertensi.

  • Tujuan khusus

Setelah mendapatkan pendidikan kesehatan selama 20 menit  mampu menjelaskan:

ü  Menyebutkan arti dari hipertensi.

ü  Menyebutkan tanda dan gejala

ü  Mengidentifikasi cara mencegah hipertensi

C.    Pelaksanaan kegiatan

  1. Topik / judul kegiatan      : hipertensi
  2. Sasaran / target                 : lansia
  3. Metode                                  :
  • Ceramah
  • Tanya jawab

4.   Media / alat

  • Leaflet
  • Flipchart
  • Meja dan kursi

5.   Waktu dan tempat

  • Waktu              : kamis/ 30 mei 2012
  • Tempat            : puskesmas air dingin
          6.   Mater (terlampir)
          7.   Setting (tempat)   :
DENAH
                           @

%             *

0000000    0000000

##                                   ##

0000000    0000000

 

 

 

 

keterangan :

  • Penyaji                         : @
  • Moderator                  : %
  • observer                      : *
  • Fasilitator                   : #
  • Audiens                       : 0

8. Pelaksana

  • Penyaji                      : endang mahdalena
  • Observer                  :
  • Moderator               : VIVI, SKM
  • Fasilitator                : Desri angelia

Dilla aprima sari

Endang mahdalena

Yossa melka putri

Yuli mustika

9.   Tugas pelaksana

  • Moderator          :
  1. Memimpin pelaksanaan penyuluhan, memotivasi anggota untuk mengikuti penyuluhan dengan tata tertib dan semangat
  2. Sebagai katalisator, yaitu mempermudah komunikasi dan interaksi dengan menciptakan suasana untuk memotivasi anggota.
  3. Mengarahkan proses penyuluhan ke arah  pencapaian tujuan.
  4. Menciptakan suasana yang mendukung.
  • Penyaji               :
  1. Menyampaikan materi penyuluhan kepada audiens
  • observer             :
  1. mengamati kegiatan penyuluhan apakah telah sesuai dengan rencana serta segala faktor pendukung dan faktor penghambat jalannya penyuluhan.
  2. Mencatat dan membuat laporan penyuluhan.
  • Fasilitator           :
  1. Menyediakan sarana dan prasarana.
  2. Mencegah terjadinya hambatan penyuluhan.
  3. Memotivasi audiens untuk mengajukan pertanyaan

10. Strategi pelaksanaan

NO

KEGIATAN MAHASISWA

KEGIATAN AUDIENS

WAKTU

1. Pembukaan :
  • Mengucapakan salam.
  • memperkenalkan mahasiswa dan pembimbing.
  • menjelaskan tujuan dan waktu.
  • Menjawab salam
  • mendengarkan.
  • mendengarkan

5  menit2.pelaksanaan :

  • persepsi audiens mengenai senam hamil.
  • Menjelaskan tentang pengertian senam hamil.
  • Menjelaskan mengenai fungsi senam hamil.
  • Menjelaskan mengenai syarat wajib senam hamil.
  • Menjelaskan tujuan senam hamil.
  • Menjelaskan mengenai langkah-langkah senam hamil.
  • Memberi kesempatan pada audiens untuk bertanya.
  • Menjawab pertanyaan audiens.
  • mengajukan pendapat
  • mendengarkan
  • mendengarkan
  • mendengarkan
  • mendengarkan
  • mendengarkan
  • mendengarkan
  • bertanya
  • mendengarkan

10  menit3.Penutup :

  • menyimpulkan materi bersama audiens
  • Melakukan evaluasi
  • Memberikan kesimpulan dan mengucapkan salam
  • Menyimpulkan materi bersama mahasiswa
  • Menjawab pertanyaan
  • Menjawab salam

10 menit

11. Evaluasi

  • Evaluasi struktur
  1. Peserta diharapkan hadir 30 orang
  2. Setting tempat yang aman, nyaman dan tenang
  •  Evaluasi proses
  1. Ada 1 orang audiens yang meninggalkan ruangan
  2. Peserta mampu memberi tanggapan
  • Evaluasi hasil
  1. Peserta mengerti apa tujuan dari senam hamil
  2. Peserta memahami manfaat dari senam hamil
  3. Peserta dapat memperagakan gerakan senam hamil

 

D.    Daftar pustaka

Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietisien Indonesia. “Penuntun Diet”; Edisi Baru, Jakarta, 2004, PT Gramedia Pustaka Utama

Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani W. I, Setiowulan W, “Kapita Selekta Kedokteran” Edisi ke-3 jilid 1, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakrta, 1999

LAMPIRAN MATERI

MATERI PENYULUHAN

1. Definisi Hipertensi

            Hypertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah yang sering terjadi pada usia setengah umur atau lebih di mana terjadi peningkatan dari tekanan sistolik di atas standard dihubungkan dengan usia dan merupakan penyebab utama jantung koroner, cidera cerebro vaskuler.

Menurut Departemen Kesehatan RI (1990) Hypertensi didefinisikan sebagai suatu peninggian yang menetap daripada tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg. Peninggian tekanan darah yang terus menerus yang merupakan gejala klinis karena hal tersebut dapat menunjukkan keadaan seperti hypertensi heart disease arteriole nefrosclerosis.

2. Tanda dan Gejala Hypertensi

  • Kepala terasa pusing
  • Rasa berkunang-kunang
  • Rasa pegal di bahu dan perasaan panas  / gelisah
  • Kurang tidur
  • Gangguan penglihatan
  • Anoreksia

3. Faktor resiko hipertensi

  • Keturunan
  • Usia
  • Merokok
  • Obesitas
  • Stess
  • Aktivitas fisik
  • Asupan

4. Cara Mencegah HypertensiPencegahan penyakit hypertensi ada 2, yaitu:

  1. Pencegahan Primer.
  • Mengatur diet agar berat badan tetap ideal, juga untuk menjaga agar tidak terjadi hypertensi kolesterolemia, DM, dsb.
  • Dilarang merokok.
  • Mengubah kebiasaan makan sehari-hari dan mengkonsumsi rendah garam.
  • Melakukan exercise untuk mengendalikan dari perasaan well being.

        2.    Pencegahan Lain

  • Menurunkan berat badan pada penderita gemuk.
  • Diet rendah garam dan diet lunak.
  • Mengubah kebiasaan hidup.
  • Olahraga secara teratur.
  • Kontrol tekanan darah secara teratur.
  • Obat-obatan anti hypertensi.

Tabel Jenis Makanan yang boleh dan yang tidak boleh diberikan.

Golongan

Bahan

Makanan

Makanan yang boleh

diberikan

Makanan yang tidak

Boleh diberikan

SumberHidrat

arang

Sumber

Protein

hewani

Sumber Protein Nabati

Sayuran

Buah-buahan

 

Lemak

Bumbu-bumbu

 

Minuman

Beras, bulgur, kentang, singkong, terigu, tapioka, hunkwe, gula, makanan yang diolah dari bahan makanan tersebut di atas tanpa garam dapur dan soda seperti: makaroni, mi, bihun, roti, biskuit, kue-kue kering, dan sebagainya.Daging dan ikan maksimum 100 gr sehari; telur maksimum 1 btr sehari; susu maksimum 200 gr sehari

Semua kacang-kacangan dan hasilnya yang diolah dan dimasak tanpa garam.

Semua sayuran segar, sayuran yang diawet tanpa garam dapur, natrium benzoas dan soda

Semua buah-buahan segar; buah-buahan yang diawet tanpa garam dapur, natrium benzoat dan soda.

Minyak, margarin tanpa garam, mentega tanpa garam.

Semua bumbu-bumbu segar dan kering yang tidak mengandung garam dapur dan lain ikatan natrium.

Teh, kopi, minuman botol ringan.

Roti, biskuit, dan kue-kue yang dimasak dengan garam dapur dan atau soda.Otak, ginjal, lidah, sardin, keju, daging, ikan dan telur yang diawet dengan garam dapur seperti: daging asap, ham, bacon, dendeng, abon, ikan asin, ikan kaleng, kornet, ebi, udang kering, telur asin, telur pindang, dan sebagainya.

Keju, kacang tanah dan semua kacang-kacangan dan hasilnya yang dimasak dengan garam dapur dan lain ikatan natrium.

Sayuran yang diawet dengan garam dapur dan lain ikatan natrium, seperti: sayuran dalam kaleng, sawi asin, asinan, acar, dsbnya

Buah-buahan yang diawet dengan garam dapur dan lain ikatan natrium.

Margarin dan mentega biasa.

Garam dapur, baking powder, soda kue, vetsin, dan bumbu-bumbu yang mengandung garam dapur seperti: kecap, terasi, magi, tomato kecap, petis, tauco.

Coklat.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietisien Indonesia. “Penuntun Diet”; Edisi Baru, Jakarta, 2004, PT Gramedia Pustaka Utama
  2. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani W. I, Setiowulan W, “Kapita Selekta Kedokteran” Edisi ke-3 jilid 1, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakrta, 1999

 

0

depresi post partum

DEPRESI POST PARTUM

1.      PENGERTIAN

Depresi post partum adalah gangguan emosional pasca persalinan yang bervariasi, terjadi pada 10 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus-menerus sampai 6 bulan atau bahkan sampai satu tahun.

Depresi pertama kali di temukan oleh Pitt tahun 1988. Menurut pitt depresi post parum adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan dan kehilangan libido(kehilangan selera untuk berhubungan intim dengan suami).

Hadi (2004), menyatakan secara sederhana dapat dikatakan bahwa depresi adalah suatu pengalaman yang menyakitkan, suatu perasaan tidak ada harapan lagi.

Kartono (2002), menyatakan bahwa depresi adalah keadaan patah hati atau putus asa yang disertai dengan melemahnya kepekaan terhadap stimulus tertentu, pengurangan aktivitas fisik maupun mental dan kesulitan dalam berpikir, Lebih lanjut Kartono menjelaskan bahwa gangguan depresi disertai kecemasan , kegelisahan dan keresahan, perasaan bersalah, perasaan menurunnya martabat diri atau kecenderungan bunuh diri.

Menurut Llewelly-jones (1994) menyatakan wanita yang didiagnosa mengalami depresi 3 bulan pertama setelah melahirkan. Wanita tersebut secara social dan emosional meras terasingkan atau mudah tegang dalam setiap kejadian hidupnya.

2.      PENYEBAB

secara umum penyebab depresi post partum :

  • Wanita dengan riwayat keluarga depresi cenderung libih muah terkena depresi
  • perubahan hormon setelah melahirkan.

kadar hormon estrogen dan progesteron sangat meningkat. Dalam 24 jam pertama setelah melahirkan, kadar hormon tersebut dengan cepat kembali normal. Perubahan besar dalam kadar hormon dapat menyebabkan depresi. Kadar hormon tiroid juga bisa turun setelah melahirkan.

  • Sejarah mengidap depresi atau penyakit mental lainnya
  • Pernah mengalami depresi postpartum
  • Mengalami stress di rumah atau tempat kerja selama hamil
  • Kurang mendapat dukungan emosional
  • Memiliki masalah pernikahan atau masalah hubungan.

Pitt (regina dkk,2001) mengemukakan 4 faktor penyebab depresi post partum :

  • Faktor konstitusional
  • Faktor fisik yang etrjadi karena ketidakseimbangan hormonal
  • Faktor psikologi
  • Faktor sosial dan karateristik ibu
    3.      GEJALA

Adapun gejala-gejala umum ibu depresi post partum adalah :

  • Merasa gelisah atau murung
  • Merasa sedih, putus asa, dan kewalahan
  • Kurang energi atau motivasi
  • Banyak menangis
  • Makan terlalu sedikit atau terlalu banyak
  • Tidur terlalu sedikit atau terlalu banyak
  • Kesulitan berpikir atau membuat keputusanMemiliki masalah memori
  • Merasa tidak berharga dan bersalah
  • Kehilangan minat atau kesenangan pada aktivitas yang biasanya disukai
  • Menarik diri dari teman dan keluarga
  • Hilang minat (anhedonia)
  • Mengalami perubahan cepat tingkatan suasa hati dari sedih jadi marah
  • Selalu merasa lelah sepanjang waktu
  • Hanya tertarik sedikit pada bayi anda
  • Tidak menikmati hidup lagi
  • Kesulitan untuk berkonsentrasi
  • Pernah berfikir untuk mencelakai diri sendiri atau bayi Anda

Ling dan Duff (2001) mengatakan bahwa gejala depresi post partum yang dialami 60% wanita mempunyai karateristik dan spesifik antara lain:

  • Trauma terhadap intervensi medis yang terjadi
  • Kelelahan dan perubahan mood
  • Gangguan nafsu makan dan gangguan tidur
  • Tidak mau berhubungan dengan orang lain
  • tidak mencintai bayinya dan ingin menyakiti bayinya atau dirinya sendiri.
    4.      GAMBARAN KLINIK

Monks dkk (1988) mengatakan depresi post partum merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti labilitas efek, kecemasan dan depresi pada ibu yang dapat berlangsung berbulan-bulan.
Faktor resiko:

  • Keadaan hormonal
  • Dukungan social
  • Emotional relationship
  • Komunikasi dan kedekatan
  • Struktur keluarga
  • Antropologi
  • Perkawinan
  • Demografi
  • Stressor psikososial dan lingkungan
    5.      PENCEGAHAN

Untuk mencegah terjadinya depresi post partum sebagai anggota keluarga harus memberikan dukungan emosional kepada ibu dan jangan mengabaikan ibu bila terlihat sedang sedih, dan sarankan pada ibu untuk :

  • Beristirahat dengan baik
  • Berolahraga yang ringan
  • Berbagi cerita dengan orang lain
  • Bersikap fleksible
  • Bergabung dengan orang-oarang baru
  • Sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis

Adapun bagi suami dapat memotivasi istri dengan cara :

  • Dorong istri untuk berbicara dan tunjukkan kalau Anda mengerti.
  • Buat batasan kunjungan dan beritahu teman-teman “tidak bisa” ketika istri tidak ingin dikunjungi.
  • Terima pertolongan dari orang-orang yang sukarela membantu menyelesaikan pekerjaan rumah.
  • Izinkan teman-teman mengemong bayi agar istri punya waktu untuk dirinya sendiri dan sementara jauh dari bayi.
  • Bertindak setia dan penuh kasih sayang secara fisik tanpa minta dilayani secara seksual.
    6.      PENGOBATAN

Terapi Obat

Obat diberikan untuk depresi sedang sampai berat obat yang umum digunakan antara lain golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), SNRI, dan tricyclic antidepressants serta benzodiasepin sebagai tambahan. Obat anti depressant tidak dapat digunakan hanya 1-2 minggu, karena efeknya baru terasa setelah 2 minggu. Umumnya diberikan selama 6 bulan.

Psikoterapi

Psikoterapi antara lain talking therapy, terapi interpersonal dan kognitif/ perilaku dan terapi psikodinamik. Talking therapy membantu pasien mengenali masalah dan menyelesaikannya melalui give anta take verbal dengan terapis. Pada terapi kognitif/perilaku, pasien belajar mengidentifikasi dan mengubah persepsi menyimpang tentang dirinya serta menyesuaikan perilaku untuk mengatasi lingkungan sekitar dengan lebih baik.

Konseling

Ibu akan diajak melihat bahwa merawat anak bukanlah kesulitan yang luar biasa. Pelan-pelan diajak melihat fokus masalah, apa yang dihadapi dalam merawat anak dan adakah masalah yang sekiranya bias diselesaikan.

Modifikasi Lingkungan

Lingkungan keluarga penting dalam penyembuhan. Suami harus pengertian. Serta keluarga harus mendukung ibu serta membantu dalam merawat anak.

 

 

 

BAB III

ASKEB TEORI

LANGKAH I (PENGKAJIAN)

1.      SUBJEKTIF

  1. Biodata atau identitas klien dan suami
  • Nama

Perlu ditanyakan agar tidak keliru bila ada kesamaan nama dengan klien

  • Umur

Perlu ditanyakan untuk mengetahui pengaruh umur terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Dalam kurun waktu reproduksi sehat, dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun

  • Alamat

Ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan bila diperlukan bila keadaan mendesak. Dengan diketahuinya alamat tersebut, bidan dapat mengetahui tempat tinggal pasien/klien dan lingkungannya. Dengan tujuan untuk memudahkan menghubungi keluarganya, menjaga kemungkinan bila ada nama ibu yang sama, untuk dijadikan petunjuk saat kunjungan rumah.

  • Pekerjaan

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan terhadap permasalahan kesehatan pasien/klien. Dengan mengetahui pekerjaan pasien/klien, bidan dapat mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonominya agar nasehat bidan sesuai.

  • Agama

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya agama pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

  • Pendidikan

Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.

  • Suku/Ras

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya suku/ras pasien/klien, akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

 B.     Riwayat pasien

  • Keluhan utama

Ditanyakan untuk mengetahui perihal yang mendorong pasien/klien datang kepada bidan. Untuk mengetahui keluhan utama tersebut pertanyaan yang diajukan oleh bidan adalah sebagai berikut: “Apa yang ibu rasakan.

Setelah pasien menjawab pertanyaan yang diajukan diatas maka pertanyaan selanjutnya adalah sebagai berikut :

  • Sejak kapan timbulnya gangguan dirasakan?
  • Ceritakan secara kronologis timbulnya gangguan tersebut?
  • Apakah gangguan tersebut hilang timbul? Bagaimana frekuensinya?
  • Dimana letak rasa sakit yang dirasakan? Bagaimana intensitas dan tingkat perawatannya?
  • Apakah ada keluhan lain?
  • Apakah gangguan tersebutmenghalangi kegiatan sehari-hari?
  • Apa yang telah dilakukan untuk mengatasi gangguan kesehatan tersebut? Apakah efektif?
  • Riwayat persalinan

Mencakup jarak antara dua kelahiran, tempat melahirkan, lamanya melahirkan, cara melahirkan. Dengan mengetahui riwayat persalinan, melihat kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu hamil saat persalinan sekarang dan mengupayakan pencegahannya dan penanggulangannya.  Jika persalinan dahulu terdapat penyulit seperti perdarahan, sectio saesaria, solusio plasenta, plasenta previa kemungkinan dapat terjadi atau timbul pada persalinan sekarang.

  • Riwayat nifas

Untuk mengetahui adakah penyakit atau kelainan pada masa nifas yang lalu (perdarahan, feloris)

C.     Riwayat kelahiran anak

  • Berat bayi sewaktu Lahir

Untuk mengetahui kondisi bayi apakah sehat atau mengalami trauma lahir dimana hal ini terjadi karena trauma pada bayi akibat tekanan mekanik (seperti kompresi dan traksi) selama preses persalianan.Kejadian ini terjadi pada berat badan bayi lebih dari 4.500 gram.

 

  • Kelainan Bawaan Bayi

Untuk dapat segera melakukan tindakan preventif pada bayi agar tidak memperparah kondisi.

  • Jenis Kelamin Bayi

Untuk mengetahui jenis kelamin bayi sebagai dokumentasi.

  • Status Bayi yang Dilahirkan: hidup atau mati
  • Bila bayi hidup, bagaimana keadaannya sekarang,
  • Bila meninggal, apa penyebab kematiannya
    D.    Keadaan sosial budaya

Untuk mengetahui keadaan psikososial pasien atau klien perlu ditanyakan antara lain :

  • Jumlah anggota keluarga
  •  Dukungan materiil dan moril yang didapat dari keluarga.
  • Kebiasaan-kebiasaan yang menguntungkan kesehatan.
  • Kebiasaan yang merugikan kesehatan
    E.     Riwayat psikologis

Perlu ditanyakan untuk mengetahui bagaimana keadaan psikologis ibu sebelum hamil. apakah pernah mengalami riwayat penyakit gangguan jiwa dan kemungkinan juga sebelumnya ibu pernah  mengalami depresi,stress dan trauma sebelumnya.

F.      Riwayat keluarga berencana

Untuk mengetahui jenis kontrasepsi apa yang dipakai klien sebelumnya,apakah ada efek samping setelah penggunaan kontrasepsi, lamanya menggunakan alat kontrasepsi,  alasan pemakaian serta pemberhentian kontrasepsi (bila tidak memakai lagi), serta keluhan selama memakai alat kontrasepsi. Karena kemungkinan berpengaruh terhadap gangguan kehamilan ektopik sekarang,contohnya pada infeksi pemakaian IUD yang merupakan salah satu faktornya.

G.    Riwayat penyakit

Untuk mengetahui riwayat penyakit yang pernah diderita pasien/klien. Informasi ini penting untuk melihat kemungkinan yang dapat terjadi pada klien dan mengupayakan pencegahannya dan penanggulangannya. Klien dengan riwayat Infeksi saluran telur (salpingitis),seperti bakteri khusus dapat menimbulkan gangguan pada tuba fallopi adalah Chlamydia trachomatis pada motilitas saluran telur,riwayat operasi tuba,riwayat cacat bawaan pada tuba, seperti tuba sangat panjang,riwayat kehamilan ektopik sebelumnya,riwayat bekas radang pada tuba yang dapat menyebabkan perubahan-perubahan pada endosalping,riwayat tumor yang mengubah bentuk tuba,dan riwayat Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti gonorrhea, klamidia dan PID (pelvic inflamamtory disease).

2.      OBJEKTIF

Untuk mengetahui keadaan setiap bagian tubuh dan pengaruhnya terhadap kehamilan untuk diupayakan pencegahan dan penanggulangannya.

1. Pemeriksaan  Keadaan Umum

  • Pengukuran tanda tanda vital

Meliputi pemeriksaan tekanan darah,nadi,suhu dan pernafasan.ibu dengan gangguan jiwa didapatkan tekanan darah,suhu,nadi dan pernafasan melebihi dari normal.

2. Pemeriksaan khusus

  • Secara inspeksi

Yaitu pemeriksaan pandang yang di mulai dari kepala sampai kaki.yang di nilai adalah kemungkinan bentuk tubuh yang normal, kebersihan kulit, rambut, muka, konjungtiva, sclera, hidung dan telinga, mulut apakah ada karies stomatitis, karang gigi, leher apakah ada pembesaran kelenjer gondok, payu dara apakah simetris kiri dan kanan, keadaan putting susu menonjol atau tidak, colostrums ada atau tidak, perut membesar sesuai dengan tua kehamilan, apakah ada bekas luka operasi, vulva apakah bersih, ada varises atau tidak, oedema dan pengeluaran dari vagina. Anus apakah ada hemoroid, extremitas atas dan bawah apakah ada kelainan.

  • Pemeriksaan penunjang
    • Dilakukan pemeriksaan Hb.
    • Tes kejiwaan dengan cara berkolaborasi dengan dokter spesialis kebidanan,psikiater dan psikologi.

LANGKAH II (INTERPRETASI DATA)

Pada langkah ini, bidan menganalisa data dasar yang diperoleh pada langkah pertama, menginterpretasikannya secara akurat dan logis, sehingga dapat merumuskan diagnose atau masalah kebidanan.

Di dalam diagnosa unsur – unsur berikut perlu dicantumkan yaitu:

  • Keadaan Pasien (ibu)

Keadaan pasien dicantumkan untuk membantu merumuskan masalah (diagnosa).

  • Masalah Utama dan Penyebabnya

Masalah dirumuskan bila bidan menemukan kesenjangan yang terjadi pada respon ibu terhadap kelahiran bayi. Tujuan mengetahui masalah utama dan penyebab adalah melakukan pengkajian lebih lanjut untuk diberikan intervensi khusus, baik berupa dukungan/penjelasan/tindakan/follow up/rujukan.Masalah Utama dan Penyebabnya.

  • Gangguan aktifitas

Dasar : ketidakmampuan melakukan aktifitas normal

  • Gangguan rasa nyaman

Dasar : perubahan pola istirahat.

  • Gangguan makanan dan cairan

Dasar : Ibu mengalami penurunan nafsu makan

  • Kebutuhan

KIE pada ibu tentang tanda-tanda penyakit jiwa.

LANGKAH III (IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL)

Langkah ini merupakan langkah antisipasi, sehingga dalam melakukan asuhan kebidanan, bidan dituntut untuk mengantisipasi permasalahan yang akan timbul dari kondisi yang sudah ada/sudah terjadi.

LANGKAH IV (TINDAKAN SEGERA)

Pada tahap ini bidan mengidentifiksi perlunya tindakan segera, baik tindakan intervensi, tindakan konsultasi, kolaborasi dengan dokter atau rujukan berdasarkan kondisi klien.Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses penatalaksanaan kebidanan dalam kondisi emergensi, berdasarkan hasil analisa data bahwa klien membutuhkan tindakan segera untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.

LANGKAH V (PERENCANAAN)

Tujuan di dalam rencana kegiatan ini adalah untuk menunjukkan perbaikan-perbaikan yang diharapkan.

LANGKAH VI (PELAKSANAAN TINDAKAN)

Merupakan tindakan pelaksanaan dari rencana tindakan yang akan diberikan pada pasien agar mendapatkan asuhan yang komperhensif.

LANGKAH VII (EVALUASI)

            Merupakan penilaian ulang yang dilakukan oleh bidan yang berguna untuk menentukan sejauh mana hasil pelaksanaan yang telah dilakukan terhadap pasien sehingga asuhan yang diberikan efektif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 1V

KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS DENGAN

DEPRESI POST PARTUM  TERHADAP Ny. “Y” P1AOH1 HARI KE 2 POST PARTUM  DI KLINIK BERSALIN  SEHAT SENTOSA PADANG

TANGGAL 14 JUNI 2012

I.         PENGUMPULAN DATA DASAR

Tanggal 14 Juni 2012

pukul 14.00 wib

  1. Identitas

Nama           : Yeni Susanti                      Nama suami : Jatmiko

Umur           : 21 tahun                            umur              : 30 tahun

Agama         : Islam                                 Agama           : Islam

Pendidikan : DIII                                   Pendidikan    : S1

Suku            : Jawa                                  Suku              : Jawa

Alamat        : Jalan Melati No. 45           Alamat          : Jalan melati No. 45

Kota Alam                                                                       Kota Alam

2. Anamnesa

1. Keluhan utama

Ibu post partum hari ke 2 mengeluh sangat merasa sedih, tidak ingin melihat apalagi mendekati bayinya, karena lahir bayi perempuan, ibu tidak nafsu makan, merasa lelah yang berlebihan dan tidak bisa tidur.

2. Riwayat persalinan sekarang

    1. Waktu persalinan       : 12 Juni 2012 pukul 12.30 wib
    2. Tempat persalinan      : BPS
    3. Ditolong oleh             : Bidan
    4. Jenis persalinan          : spontan
    5. Lama persalinan

–         Kala I                  : ± 10 jam

–         Kala II                : ± 30 menit

–         Kala III               : ±15 menit

–         Kala IV               : ± 2 jam

  • Ketuban

–         Warna                 : jernih

–         Jumlah                 : ± 500 cc

–         Bau                     : amis

  • Bayi

–         Jenis kelamin       : perempuan

–         A/S                     : 9/10

–         BB                      : 3500 gr

–         PB                      : 47 cm

–         Molase                : tidak ada

–         Kelainan              : tidak ada

  • Plasenta

–         Ukuran                : 500 gr

–         Insersi                 : normal

–         Kotiledon            : lengkap

–         Kelainan              : tidak ada

  • Perdarahan selama persalinan    : ± 55 cc
  • Komplikasi persalinan               : tidak ada
  • Riwayat kontrasepsi         ; Tidak ada
  • Riwayat kesehatan
    1. Jentung                      : tidak ada
    2. Ginjal                        : tidak ada
    3. DM                           : tidak ada
    4. Hipertensi                  : tidak ada
    5. Hepatitis                    : tidak ada
    6. Dll                             : tidak ada
    7. Status perkawinan
      1. Usia nikah pertama kali    : 22 thun
      2. Status pernikahan            : syah
      3. Lama pernikahan             : 2 tahun
      4. Pernikahan ke                  : 1
      5. Pola nutrisi

      1. Makan

–         Frekwensi           : 1-2 x sehari

–         Menu                  : 3 sendok makan nasi + 1 sendok makan sayur + 1 potong lauk sebesar korek api + 1 gelas air mineral

–         Keluhan               : tidak ada

2. Minum

–         Frekwensi           : 6-8 gelas sehari

–         Jumlah                 : 3 liter

–         Keluhan               : tidak ada

6. Pola eliminasi

a. BAK

–         Frekwensi           : 1 x sehari

–         Warna                 : kuning padat

–         Keluhan               : tidak ada

b. BAB

–         Frekwensi           : 3-4 x sehari

–         Konsistensi          : cair

–         Warna                 : kuning jenih

–         Keluhan               : tidak ada

7. Pola istirahat dan tidur

    1. Istirahat siang             : 1-2 jam
    2. Istirahat malam          : 3-4 jam
    3. Keluhan                     :  susah tidur
    4. Personal hygiene
      1. Mandi                       : 1 x sehari
      2. Gosok gigi                 : 2 x sehari
      3. Keramas                   : 1 x dua hari
      4. Ganti pembalut          : 2-3 x sehari
      5. Ganti pakaian            : 2 x sehari
      6. Olah raga
        1. Senam nifas               : dilakukan
        2. Frekwensi                 : 1 x seminggu
        3. Pola hidup sehat
          1. Merokok                   : tidak ada
          2. Alcohol                     : tidak ada
          3. Jamu-jamu                 : tidak ada

          8. Keadaan psikologi           : kurang baik

        9. Keadaam social

            1. Hubungan ibu dengan suami               : baik
            2. Hubungan ibu dengan keluarga           : baik
            3. Hubungan ibu denga tetangga  : rukun
            4. Keadaan spiritual             : ibu melaksanakan ibadah nya
            5. Data Objektif
              1. Pemeriksaan umum
                1. Keadaan umum         : kurang baik
                2. Keadaan emosional   : CMC
                3. Tanda vital

–         TD                         : 100/70 mmHg

–         Nadi                       : 90 x/menit

–         Suhu                       : 36oC

–         Pernapasan : 24 x/menit

  1. Pemeriksaan Khusus
    1. Wajah

–         Conjungtiva   :  tidak pucat

–         Sclera            : tidak kuning

  1. Leher                        : tidak ada perbesaran kelenjar tyroid
  2. Payudara

–         Pengeluaran         : ada (+)

–         Bentuk                : simetris kiri dan kanan.

–         Putting susu         : menonjol

  1. Abdomen

–         Bentuk                      : simetris

–         Tinggi fundus uteri      : 2 jari bawah pusat

–         Kontraksi                  : ada

–         Kandung kemih         : kosong

  1. Genetalia

–         Perineum             : utuh

–         Lochea                : rubra

  • Warna           : darah merah
  • Jumlah           : 10 cc
  • Bau               : tidak busuk
  1. Ekstremitas
  • Oedema        : tidak ada
  • Reflex            : ka/ki (+/+)
  • Kemerahan    : tidak ada
  1. Pemeriksaan Laboratorium

Darah

–         Hb                      :     11 gr %

SOAP

Subjektif :

  1. Keluarga mengatakan bahwa Ny. “ Y “ tidak ingin melihat apa lagi mendekati bayinya kerena jenis kelamin bayinya tidak sesuai dengan harapan.
  2. Keluarga mengatakan ibu tidak nafsu makan ,merasa lelah yang berlebihan ,dan tidak bisa tidur.

Objektif:

  1. Pemeriksaan Fisik
    1. Keadaan umum      : ibu tampak kusut dan lemah
    2. Kesadaran              : composmentis
    3. Tanda-tanda vital

TD                         : 100/70 mmHg

Nadi                       : 90 x/menit

Suhu                       : 36 ⁰C

P                            : 24 x/menit

  1. Pemeriksaan Khusus
    1. Wajah

–         Conjungtiva         :  tidak pucat

–         Sclera                  : tidak kuning

  1. Leher                              : tidak ada perbesaran kelenjar tyroid
  2. Payudara

–         Pengeluaran         : ada (+)

–         Bentuk                : simetris kiri dan kanan.

–         Putting susu         : menonjol

  1. Abdomen

–         Bentuk                      : simetris

–         Tinggi fundus uteri      : 2 jari bawah pusat

–         Kontraksi                  : ada

–         Kandung kemih         : kosong

  1. Genetalia

–         Perineum             : utuh

–         Lochea                : rubra

  • Warna           : darah merah
  • Jumlah           : 10 cc
  • Bau               : tidak busuk
  1. Ekstremitas

–         Oedema              : tidak ada

–         Reflex                  : ka/ki (+/+)

–         Kemerahan          : tidak ada

  1. pemeriksaanlaboratorium

Darah

Hb       :           11 gr %

Assessment :

Ibu nifas P1A0H1 hari ke 2 dengan depresi post partum.

Dasar :

  1. Ibu P1AoH1 post partum tanggal 12 Juni 2012 pukul 12.30 WIB
  2. Ibu mengatakan sulit tidur, tidak nafsu makan, perasaan tidak berdaya, tidak senang melihat bayinya, tidak mau mendekati bayinya, tidak ada perhatian terhadap penampilannya dengan keadaan ibu yang kotor dan lemah.

Planning :

  1. Jelaskan pada ibu dan keluarga tentang keadaan ibu saat ini.
  2. Jelaskan pada ibu bahwa ibu menderita depresi post partum yaitu depresi setelah melahirkan karena tidak mengingkan anak perempuan.
  3. Libatkan keluarga untuk membantu ibu untuk beristirahat, melakukan aktivitas dan melakukan interaksi dengan bayinya.
  4. Observasi keadaan umum ibu dan tanda vital
  5. Memantau keadaan ibu apakah masih lemah dan kusut.
  6. Anjurkan pada ibu untuk makan 3 x sehari dengan menu yang sehat dan bergizi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://bukankuyg biasa.blogspot.com/2007/02/depresi-post-partum.htm/
  2. http://fadlan’s world-sheikh famili-depresi pasca melahirkan
  3. http://klinis.wordpress.com/2007/12/29/depresi-post partum/
  4. http://rinie.info/2008/05/05/post-psrtum-blues-aka-baby-blues/
  5. http://ilma95.net/kasih-suami_pulihkan-depresi.htm
  6. Home»Artikel Kedokteran»DEPRESI PASCA MELAHIRKAN (DEPRESI POSTPARTUM)
  7. As’ari, Y. 2005. Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Kestabilan Emosi Dalam Menghadapi Kelahiran Anak Pertama. Skripsi. (tidak diterbitkan). Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  8. Erikania, J. 1999. Mengenal Post Partum Blues. Nakita. 8 Mei 199. No. 05/1. Halaman 6. Jakarta : PT Kinasih Satya Sejati.
  9. Hinton, J. 1989. Depresi dan Perawatannya. Jakarta : Dian Rakyat.
  10. Ibrahim, Z. 2002. Psikologi Wanita. Bandung : Pustaka Hidayah.
  11. Kartono, K. 1992. Psikologi Wanita : Mengenal Wanita Sebagai Ibu dan Nenek. Jilid Dua. Bandung : Mandar Maju.